PALANGKA RAYA, Kalimantanlive.com – Masalah distribusi tenaga kesehatan (nakes) yang tidak merata masih menjadi tantangan serius dalam pemerataan layanan kesehatan di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng). Kekurangan dokter gigi di beberapa puskesmas menjadi salah satu persoalan utama, khususnya di wilayah-wilayah terpencil.
Kepala Dinas Kesehatan Kalteng, Suyuti Syamsul, menjelaskan bahwa idealnya setiap puskesmas memiliki dokter gigi. Namun, kenyataannya sebagian fasilitas kesehatan di pelosok provinsi belum memiliki tenaga dokter gigi. Hal ini, menurut Suyuti, berdampak pada kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat di daerah tersebut.
BACA JUGA: Pemprov Kalteng Kawal Harga dan Pasokan Bapok, Jaga Stabilitas Jelang Ramadhan
“Problemnya, sebagian besar dokter gigi itu perempuan, lalu di puskesmas belum tentu peralatannya juga tersedia,” jelas Suyuti saat diwawancarai Kompas.com di RSUD dr Doris Sylvanus, Palangka Raya, Senin (9/2/2026). Tenaga kesehatan perempuan cenderung mempertimbangkan kembali penugasan di daerah terpencil, sehingga distribusi dokter gigi menjadi tidak merata.
Kondisi ini berbeda jauh dengan wilayah perkotaan. Di Palangka Raya, misalnya, jumlah dokter justru melebihi kebutuhan.
“Kalau di Palangka Raya ini sendiri dokternya justru berlebihan, yang kurang itu di daerah-daerah terpencil,” tambah Suyuti. Ketimpangan ini memperlihatkan perbedaan akses layanan kesehatan antara kota dan desa.
Kehadiran dokter gigi tidak hanya memenuhi kewajiban administrasi, tetapi juga untuk menangani masalah kesehatan yang paling sering muncul.
Dalam program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digelar sejak 2025, masalah gigi dan mulut menjadi kasus terbanyak yang ditemukan di Kalteng. Kekurangan dokter gigi membuat penanganan persoalan ini menjadi terbatas.







