Trump Bongkar Rencana Besar! Xi Jinping Dijadwalkan ke Gedung Putih Akhir Tahun, Sinyal Baru Hubungan AS–China

WASHINGTON DC, KALIMANTANLIVE.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap rencana kunjungan penting Presiden China Xi Jinping ke Gedung Putih pada akhir tahun ini. Agenda tersebut dinilai menjadi sinyal baru dalam upaya memperbaiki hubungan dua raksasa ekonomi dunia yang sempat memanas akibat perang dagang.

Kepastian itu disampaikan Trump dalam wawancara bersama NBC News yang direkam pada Rabu (4/2/2026) dan disiarkan pada Minggu (8/2/2026). Pernyataan tersebut muncul setelah kedua pemimpin melakukan pembicaraan mengenai berbagai isu strategis global.

# Baca Juga :HEBOH! Hotel Mewah Bongkar Lantai Emas Demi Cuan, Nilainya Tembus Belasan Juta Dolar Saat Harga Melonjak

# Baca Juga :Data Mengejutkan! 54 Juta Warga Miskin Belum Dapat BPJS PBI, 15 Juta Orang Mampu Justru Terdaftar

# Baca Juga :Harga Emas Antam 9 Februari 2026 Melonjak Lagi, Tembus Rp 2,94 Juta per Gram

# Baca Juga :JUARA ASIA! An Se-young Melesat, Kejar Rekor Legendaris Susy Susanti yang Bertahan Puluhan Tahun

Dalam dialog tersebut, Trump dan Xi membahas sejumlah persoalan krusial, mulai dari perdagangan, isu Taiwan, konflik Rusia–Ukraina, hingga situasi geopolitik di Iran, sebagaimana dilaporkan AFP.

Sebelum Xi berkunjung ke Washington, Trump dijadwalkan lebih dulu melakukan lawatan ke China pada April mendatang sebagai bagian dari upaya memperkuat komunikasi bilateral.

“Xi Jinping akan datang ke Gedung Putih menjelang akhir tahun ini,” kata Trump.

Ia menegaskan pentingnya menjaga stabilitas hubungan kedua negara, mengingat peran strategis Amerika Serikat dan China dalam tatanan global.

“Kami adalah dua negara paling kuat di dunia dan memiliki hubungan yang sangat baik,” ujarnya.

Trump juga menilai pembicaraan telepon dengan Xi berlangsung positif. Kedua pihak dinilai memahami pentingnya mempertahankan momentum komunikasi agar tidak kembali memicu ketegangan.

Tarif, ekonomi, dan isu Taiwan jadi sorotan

Sejak kembali memimpin Gedung Putih setahun terakhir, Trump dikenal agresif menerapkan kebijakan tarif, termasuk pada sektor baja, otomotif, dan berbagai industri strategis lain.

Meski sempat memicu ketegangan dengan Beijing, kedua negara akhirnya menyepakati gencatan dalam perang dagang setelah eskalasi besar pada musim semi lalu. Namun, ketergantungan ekonomi antara AS dan China masih kuat, terutama di sektor manufaktur dan rantai pasok global.

Di sisi lain, Xi mengingatkan Trump agar berhati-hati terkait kebijakan penjualan senjata ke Taiwan, wilayah yang diklaim China sebagai bagian dari teritorinya.

Meski demikian, Xi tetap mendorong penyelesaian berbagai persoalan bilateral secara damai.

“Dengan menangani masalah satu per satu dan terus membangun rasa saling percaya, kita dapat menemukan jalan yang tepat bagi kedua negara untuk hidup berdampingan,” ujar Xi, dikutip dari media penyiaran pemerintah China, CCTV.