JAKARTA, Kalimantanlive.com – Tim nasional futsal Indonesia membuat sejarah dengan menempati posisi runner-up Piala Asia 2026. Tim Garuda nyaris menaklukkan juara bertahan Iran, dengan skor 5-5 di waktu normal dan adu penalti 4-5 pada final yang berlangsung di Indonesia Arena, Jakarta, akhir pekan lalu.
Prestasi ini menjadi momentum penting bagi pengembangan futsal di Tanah Air. Meski kalah, tim Garuda di bawah asuhan Hector Souto menunjukkan bahwa talenta lokal dapat bersaing di level internasional tanpa mengandalkan naturalisasi atau pemain diaspora.
BACA JUGA: Sukses Gelar Piala Asia Futsal 2026, Indonesia Bidik Tuan Rumah Piala Dunia 2028
Ekosistem futsal di Indonesia sudah mulai terbentuk sejak akar rumput. Kompetisi rutin di jenjang siswa dan mahasiswa, serta futsal sebagai ekstrakurikuler di sekolah dan universitas, menghasilkan sumber pemain yang cukup untuk mengisi liga profesional dan tim nasional.
Filosofi futsal Indonesia yang intens, agresif, dan kolektif ditanamkan sejak pemain menapaki jenjang profesional, sehingga Hector Souto memiliki basis pemain yang kuat menghadapi negara-negara tangguh seperti Jepang dan Iran.
Namun, keberadaan pemain melimpah harus ditopang oleh liga profesional yang berkelanjutan agar regenerasi pemain terjamin dan nilai industri futsal meningkat. Federasi Futsal Indonesia (FFI) dan operator Pro Futsal League (PFL) menyadari hal ini dan menyiapkan langkah strategis.
PFL menjalin kerja sama dengan klub futsal profesional asal Spanyol, AE Palma, dengan Jose Tirado ditunjuk sebagai penasehat teknis. Tirado akan memantau manajemen kompetisi, klub, dan bakat pemain Indonesia untuk membuka peluang mereka bermain di kompetisi Eropa.
Selain itu, PFL memperluas jumlah peserta menjadi 16 tim mulai musim 2026/2027 dan menyiapkan piramida kompetisi untuk jenjang usia muda. Program jangka panjang ini diharapkan meningkatkan valuasi liga, kemandirian finansial klub, serta eksposur global, memanfaatkan momentum prestasi timnas di Piala Asia 2026.
Sumber: Antaranews.com







