“Ghost in the Cell”: Penjara Jadi Cerminan Sistem Sosial, Kata Joko Anwar

BERLIN, Kalimantanlive.com – Sutradara Joko Anwar menyebut penjara dalam film terbarunya, Ghost in the Cell, sebagai miniatur sistem yang berlaku di masyarakat. Pernyataan itu ia sampaikan saat film tersebut diputar dalam program Berlinale Forum di Festival Film Internasional Berlin, Jerman.

Menurut Joko, penjara dalam film bukan sekadar latar tempat, melainkan ruang sempit yang memadatkan berbagai struktur sosial. Di dalamnya terdapat hierarki, dinamika kekuasaan, ketakutan, kekerasan, hingga persoalan moralitas yang mencerminkan kondisi di luar tembok penjara.

BACA JUGA: Deddy Mizwar Garap Skenario Film Drama Keluarga “Rumah Tanpa Cahaya”

Ia menekankan bahwa meskipun semua orang berada dalam sistem yang sama, tidak semua menghadapi konsekuensi yang setara. Hal ini, kata dia, juga berlaku dalam kehidupan bermasyarakat, termasuk dalam konteks hukum dan keadilan.

Isu kerusakan lingkungan dan kesenjangan peradilan pun menjadi bagian penting dalam struktur cerita. Bagi Joko, horor dalam film ini tidak hanya hadir melalui sosok hantu, tetapi juga melalui realitas sosial yang nyata dan sering kali diabaikan.

Terkait karakter hantu, Joko menegaskan bahwa sosok tersebut tidak dimaksudkan sebagai simbol semata. Hantu dalam film digambarkan memiliki niat, kecerdasan, serta batasannya sendiri, bahkan memilih korbannya secara sadar.

Pendekatan tersebut menghadirkan ketidaknyamanan moral bagi penonton, sehingga film memicu pertanyaan etis, bukan sekadar ketakutan instan.

Dalam proses produksi, Joko menyiapkan dinamika kelompok narapidana secara detail. Setiap aktor diberikan latar karakter yang rinci, namun informasi tentang kelompok lain dirahasiakan agar tercipta rasa curiga dan ketegangan yang autentik.