Dinkes Tala Bergerak, Satu dari Lima Siswa Terindikasi Gangguan Emosional, Deteksi Dini Diperluas, UKS Diperkuat

Merespons temuan tersebut, Dinkes menggencarkan penyuluhan kesehatan mental di sekolah, termasuk edukasi manajemen stres dan penguatan dukungan sebaya.

Koordinasi dengan Dinas Pendidikan dilakukan agar sekolah menjadi ruang aman untuk konsultasi dan pendampingan.

BACA JUGA: Bangun Budaya Disiplin dan Pelayanan Prima, Polres Tanah Laut Rutin Gelar Korve

Edukasi Gencar untuk Masalah Fisik

Tak hanya mental, skrining terhadap 42.785 siswa usia 10–17 tahun juga menemukan persoalan fisik yang cukup dominan.

Karies gigi menjadi temuan tertinggi, dialami 28.269 siswa (76,1 persen) dari 37.147 siswa yang diperiksa.

Selain itu:

  • 71,74 persen siswa tergolong kurang aktivitas fisik.
  • Lebih dari separuh siswa yang dites kebugaran berada pada kategori kurang.
  • 21,05 persen siswa terindikasi hipertensi dan 6,27 persen prahipertensi.
  • Kasus anemia juga ditemukan pada lebih dari sepertiga siswa yang diperiksa khusus.

Sebagai tindak lanjut, Dinkes menggelar edukasi sikat gigi massal, pemeriksaan gigi berkala, kampanye aktivitas fisik minimal 30 menit per hari, serta edukasi gizi seimbang dan pencegahan anemia, khususnya bagi remaja putri.

Perkuat UKS dan Kolaborasi Lintas Sektor

Dinkes Tala juga memperkuat peran Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai pusat deteksi dini dan pemantauan kesehatan berkelanjutan.

Kolaborasi lintas sektor—melibatkan Dinas Pendidikan, pihak sekolah, dan orang tua—ditingkatkan untuk memastikan setiap temuan kasus mendapat penanganan tepat.

“Upaya ini tidak bisa berdiri sendiri. Sekolah dan orang tua menjadi bagian penting dalam pengawasan dan pendampingan,” kata Isna.

Dengan skrining berkala dan intervensi terarah, Dinkes Tala menargetkan sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh yang sehat—secara fisik maupun mental.

(Kalimantanlive.com/syahza rei maghribbi)