KUALA LUMPUR, KALIMANTANLIVE.COM – Industri durian di Malaysia menghadapi tekanan besar setelah lonjakan produksi tak lagi diimbangi permintaan ekspor. Perubahan selera pasar China memicu fenomena yang disebut petani sebagai “tsunami durian”, ditandai harga jatuh dan stok menumpuk.
Lonjakan permintaan dari China beberapa tahun lalu sempat membawa masa keemasan bagi petani. Namun delapan tahun berselang, situasinya berbalik: ekspor melemah, produksi berlebih, dan harga anjlok ke titik terendah dalam satu dekade.
#baca juga:Ada Apa? Direktur Gempa BMKG Daryono Mendadak Mundur dari Jabatannya
#baca juga:Harga Emas Meledak Stabil Hari Ini! Update Resmi 14 Februari 2026, Investor Wajib Cek Sebelum Beli
Petani durian, Liew Jia Soon, mengaku pendapatannya turun drastis meski luas kebun meningkat sejak ia kembali mengelola lahan keluarga pada 2018. Pada musim ini, keuntungan disebut merosot hingga 60 persen, bahkan ratusan durian miliknya sempat tak laku terjual dan menumpuk di pusat pengumpulan Raub.
Selera China Berubah, Rantai Pasok Kelabakan
Penurunan bukan karena minat warga China terhadap durian hilang. Permintaan tetap tinggi, namun preferensi bergeser dari durian beku ke durian segar utuh.
Presiden Asosiasi Produsen Durian Malaysia, Eric Chan, menilai perubahan ini membuat rantai pasok belum siap. Keterbatasan penerbangan langsung turut menghambat pengiriman durian segar ke China.
Akibatnya, produksi menumpuk di dalam negeri. Pada Desember 2025, harga durian bahkan sempat jatuh ke sekitar 10 ringgit per kilogram—hanya sepersepuluh dari harga normal.
Investasi Lama Jadi Bumerang
Durian membutuhkan waktu 5–10 tahun untuk berbuah. Investasi besar petani pada periode 2016–2019 kini justru memicu banjir produksi saat pasar melemah.
Data pemerintah menunjukkan luas kebun durian meningkat dari 163.000 hektare pada 2016 menjadi lebih dari 227.000 hektare pada 2024, dengan produksi nasional mencapai sekitar 568.000 ton.
Penasihat Durian Academy, Lim Chin Khee, menilai konsumen China kini lebih selektif dan agresif menawar harga karena tekanan ekonomi.
Persaingan dari negara eksportir lain seperti Thailand, Vietnam, dan Indonesia juga memperketat pasar. Presiden Asosiasi Eksportir Durian Malaysia, Sam Tan, memperkirakan tekanan harga akan semakin terasa saat musim puncak produksi di kawasan tiba.
Di sisi lain, China mulai menanam durian sendiri sebagai langkah menuju swasembada. Kondisi ini membuat ekspor beberapa produsen turun signifikan. Pemilik perkebunan Durianhill di Penang, Ken Tan, menyebut pengiriman ke China musim ini merosot hingga 40 persen.







