AS Siapkan Skenario Serangan Berminggu-minggu ke Iran, Timur Tengah di Ambang Krisis

WASHINGTON DC, KALIMANTANLIVE.COM – Militer Amerika Serikat dilaporkan tengah mematangkan skenario operasi militer terhadap Iran yang bisa berlangsung selama berminggu-minggu.

Laporan Reuters menyebutkan, perencanaan tersebut dilakukan sebagai langkah antisipasi apabila Presiden AS Donald Trump mengeluarkan perintah penyerangan.

# Baca Juga :BREAKING CUACA KALIMANTAN 16 FEBRUARI 2026: Hujan Meluas, Petir Ancam Sejumlah Kota, Dampak Bibit Siklon Bikin Langit Tak Stabil!

# Baca Juga :Media Malaysia Seret Nama Erick Thohir dalam Isu Naturalisasi Harimau Malaya, Tuduhan Picu Polemik ASEAN

# Baca Juga :Sidang Isbat Awal Ramadhan 2026 Digelar 17 Februari, Ini Jadwal Lengkap, Tahapan, dan Posisi Hilal Terbaru

Dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa rencana ini memiliki risiko sangat tinggi, terutama karena jalur diplomasi antara Washington dan Teheran masih berlangsung.

Lebih Kompleks dari Operasi Sebelumnya

Perencanaan militer kali ini disebut jauh lebih kompleks dibandingkan operasi “Midnight Hammer” pada Juni tahun lalu, ketika bomber siluman AS melakukan serangan terbatas ke fasilitas nuklir Iran.

Dalam skenario terbaru, militer AS disebut tidak hanya menyasar fasilitas nuklir, tetapi juga berpotensi menargetkan instalasi negara dan keamanan Iran.

Namun langkah tersebut membawa konsekuensi besar. Iran diketahui memiliki sistem pertahanan dan gudang rudal yang kuat, yang berpotensi memicu serangan balasan dan memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.

“AS sepenuhnya memperkirakan Iran akan membalas, yang akan menyebabkan serangan balasan dari waktu ke waktu,” ujar salah satu pejabat yang dikutip Reuters.

Teheran melalui Garda Revolusi Iran sebelumnya telah memperingatkan bahwa setiap serangan ke wilayahnya akan dibalas, termasuk terhadap pangkalan militer AS di kawasan.

Saat ini, pangkalan AS tersebar di Yordania, Kuwait, Arab Saudi, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, hingga Turkiye.

Negosiasi Rapuh di Tengah Ketegangan

Di tengah memanasnya situasi, utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner dijadwalkan menggelar negosiasi dengan Iran di Jenewa, Swiss, pada Selasa (18/2/2026), dengan mediasi dari Oman.

Namun, harapan tercapainya kesepakatan dinilai tidak mudah.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa meskipun Trump lebih memilih kesepakatan damai, prosesnya tetap sangat sulit.

Di sisi lain, Pentagon mengonfirmasi pengiriman kapal induk tambahan ke Timur Tengah, lengkap dengan jet tempur, kapal perusak rudal pemandu, dan ribuan personel militer.

Langkah ini dinilai sebagai bentuk kesiapan militer sekaligus tekanan strategis dalam negosiasi.

Isyarat Perubahan Rezim

Dalam pernyataan terpisah usai acara militer di Fort Bragg, Trump secara terbuka menyebut kemungkinan perubahan pemerintahan di Iran sebagai sesuatu yang bisa menjadi hasil terbaik.

Meski tidak merinci lebih lanjut, pernyataan tersebut memicu spekulasi mengenai arah kebijakan luar negeri AS ke depan.

Namun Trump juga menunjukkan skeptisisme terhadap pengerahan pasukan darat, yang mengindikasikan bahwa jika terjadi serangan, operasi kemungkinan besar akan bertumpu pada kekuatan udara dan laut.

Juru bicara Gedung Putih Anna Kelly menegaskan bahwa semua opsi masih terbuka.

“Presiden memiliki semua opsi di atas meja terkait Iran. Keputusan akhir akan diambil berdasarkan kepentingan keamanan nasional,” ujarnya.