Harga Emas Diramal Terus Meroket, Antrean ‘War’ Logam Mulia Bisa Terulang Lagi di Indonesia

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Harga emas diperkirakan masih akan terus mengalami kenaikan dalam waktu dekat. Lonjakan ini didorong oleh memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah, kebijakan bank sentral Amerika Serikat, serta tingginya permintaan logam mulia sebagai aset safe haven.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tren kenaikan harga emas akan semakin mendorong minat masyarakat untuk memiliki logam mulia sebagai instrumen investasi jangka panjang.

# Baca Juga :Harga Emas Meledak Stabil Hari Ini! Update Resmi 14 Februari 2026, Investor Wajib Cek Sebelum Beli

# Baca Juga :BREAKING Harga Emas Antam 13 Februari 2026 di Pegadaian Turun: 1 Gram Kini Rp 3,24 Juta, Buyback Justru Naik!

# Baca Juga :Harga Emas Antam 9 Februari 2026 Melonjak Lagi, Tembus Rp 2,94 Juta per Gram

# Baca Juga :Harga Emas Antam Pegadaian Anjlok, Hari Ini Tembus Rp3,17 Juta per Gram, Simak Rincian Terbarunya

Menurutnya, fenomena antrean panjang pembelian emas bisa kembali terjadi, seperti yang sempat terlihat saat harga emas turun beberapa waktu lalu.

Antrean ‘War’ Emas Bisa Terjadi Lagi

Ibrahim mencontohkan kejadian terbaru pada Jewellery Fair 2026 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan.

Acara tersebut sempat menjadi sorotan karena ramainya pengunjung yang berebut membeli emas fisik, bahkan disebut seperti “war” logam mulia.

“Antrean ini bukan FOMO, antrean ini adalah antrean yang sudah biasa terjadi di mana saat harga logam mulia mengalami penurunan dan ini saat yang tepat untuk melakukan pembelian,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Senin (16/2/2026).

Ia menambahkan bahwa masyarakat semakin sadar harga emas dalam jangka pendek, menengah, hingga panjang cenderung terus naik signifikan.

“Masyarakat tahu bahwa harga logam mulia ini akan mengalami kenaikan yang cukup besar,” ujarnya.

Faktor Geopolitik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Ibrahim menjelaskan bahwa salah satu faktor terbesar yang mempengaruhi harga emas saat ini adalah ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.

“Kondisi geopolitik terutama di Timur Tengah, di mana kapal induk Amerika yang kedua sudah mendekati kawasan dan ada persiapan untuk melakukan penyerangan terhadap Iran. Ini membuat ketegangan kembali meningkat,” jelasnya.

Situasi tersebut membuat investor global kembali memburu emas sebagai aset perlindungan saat ketidakpastian meningkat.