KALIMANTANLIVE.COM – Laga panas tersaji di Molineux Stadium saat Arsenal harus puas bermain imbang 2-2 melawan Wolves dalam lanjutan Premier League, Kamis dini hari WIB, 19 Februari 2026.
Sempat memimpin dua gol, The Gunners kehilangan fokus di akhir pertandingan dan gagal mengamankan tiga poin. Hasil ini memicu kritik keras dari warganet, bahkan menyeret nama Mikel Arteta dalam narasi konspirasi liar terkait peluang juara Manchester City.
#baca juga:Sinyal Besar dari Arteta! Bukayo Saka Bisa Tinggalkan Posisi Winger Andalan Arsenal
#baca juga:Declan Rice Akui Laga Arsenal vs Brentford Sulit
#baca juga:HUJAN GOL DI ETIHAD! Man City Libas Fulham 3-0, Tekan Arsenal di Puncak Klasemen
#baca juga:PANAS! Thomas Frank Dipecat Tottenham, Sering Puji Arsenal Bikin Pemain Spurs Gerah
Unggul Cepat, Lalu Kehilangan Kendali
Arsenal memulai pertandingan dengan agresif. Gol cepat dari Bukayo Saka pada menit ke-4 membuat tim tamu tampil dominan sejak awal.
Keunggulan bertambah pada menit ke-55 setelah situasi tekanan yang melibatkan lini belakang Wolves berujung gol kedua. Skor 2-0 membuat Arsenal terlihat nyaman mengendalikan jalannya laga.
Namun momentum berubah drastis. Pada menit ke-61, Wolves memperkecil ketertinggalan lewat gol Hugo Bueno.
Drama memuncak di masa injury time. Menit ke-94, bola yang mengenai Riccardo Calafiori berujung gol penyama kedudukan. Beberapa laporan menyebutnya sebagai gol bunuh diri. Skor 2-2 bertahan hingga peluit akhir.
Dua poin yang sudah di depan mata pun hilang.
Meski masih berada di puncak klasemen dengan 58 poin, posisi Arsenal kini semakin tertekan. Jika Manchester City meraih kemenangan pada laga berikutnya, jarak poin bisa menipis dan membuat persaingan gelar semakin sengit.
Arteta Jadi Sorotan, Kritik Memanas di Media Sosial
Hasil imbang ini langsung memicu perdebatan luas di media sosial, terutama di X. Banyak warganet menilai Arteta terlalu cepat menurunkan intensitas permainan setelah unggul dua gol.
Alih-alih terus menekan lawan, Arsenal dianggap bermain aman dan memberi ruang bagi Wolves untuk bangkit. Kritik juga mengarah pada keputusan pergantian pemain serta lemahnya koordinasi lini belakang di menit-menit akhir.







