JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Kebiasaan minum air hangat setiap pagi kerap dipercaya mampu “membersihkan” ginjal dan menjaga kesehatannya. Namun, secara medis, benarkah manfaat itu berasal dari suhu air?
Dokter spesialis urologi konsultan, Prof. Dr. dr. Nur Rasyid, SpU(K) dari Siloam Hospitals Asri menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut memang bermanfaat, tetapi bukan karena airnya hangat.
#baca juga:BEASISWA S2 BELGIA 2026 RESMI DIBUKA! Kuliah Sains hingga Seni, Dana Rp200 Juta per Tahun
Menurutnya, yang terpenting adalah asupan cairan yang cukup. Suhu air, baik hangat maupun dingin, tidak memberikan perbedaan signifikan bagi kerja ginjal.
“Yang penting itu minumnya. Mau hangat, dingin, atau suhu ruang sama saja, karena saat sampai ke ginjal suhunya sudah menyesuaikan tubuh,” jelasnya.
Hidrasi Jadi Kunci Kesehatan Ginjal
Ahli menekankan bahwa menjaga tubuh tetap terhidrasi merupakan cara efektif membantu ginjal bekerja optimal. Cairan yang cukup membantu proses pembuangan limbah metabolisme serta mengurangi risiko gangguan ginjal.
Sejumlah penelitian di Australia dan Kanada juga menunjukkan bahwa asupan cairan yang memadai membantu ginjal membuang zat sisa lebih efisien serta berpotensi menurunkan risiko penyakit ginjal kronis. Air putih tetap menjadi pilihan terbaik untuk kebutuhan ini.
Mengutip laporan kesehatan dari VNExpress, mayoritas dokter menyarankan konsumsi sekitar 1,5–2 liter air per hari bagi orang dewasa sehat. Kebutuhan bisa meningkat pada orang yang tinggal di iklim panas atau aktif secara fisik.
Sebaliknya, pasien dengan penyakit ginjal stadium lanjut mungkin perlu membatasi asupan cairan sesuai rekomendasi dokter. Sementara orang yang rentan batu ginjal biasanya disarankan menghasilkan sekitar 2,5 liter urine per hari, yang umumnya memerlukan konsumsi air sekitar 3 liter.









