MUARA TEWEH, KALIMANTANLIVE.COM – Tantangan kedepan Setahan Awingnu (Awing) terkait pelabuhan Jetty di Bintang Ninggi II tampak semakin panjang dan berliku, namun ia masih optimis apa yang diyakininya sebagai kebenaran akan menang pada waktunya (18/2/2026).
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, muncul beberapa usulan yang tak biasa, diantaranya meminta dukungan dari Panglima Jilah di Kalimantan Barat agar dimintai sumbangan pikirannya sebagai pelengkap.
Apa yang dihadapinya kini, dimana telah menempuh berbagai cara dialogis hingga hukum adat beserta prosesi ritual yang telah dilaksanakan agar haknya dihormati, Awing dipandang masih perlu mendapat support mitra perjuangan yang berasal dari pemikiran diluar wilayahnya sebagai pelengkap, sekaligus dapat menjadi simbol solidaritas dan soliditas Dayak lintas provinsi dan lebih universal.
Maka Awing bukan saja telah mendapat dukungan oleh beberapa organisasi Dayak di daerahnya yang pada dasarnya telah besar dan mengakar kuat di masyarakat Dayak disini, begitu pula dari tokoh Dayak berpengaruh setempat yang bersikap adil dalam memberikan arahan mencari kebenaran dan menengahi persoalan ini, tetapi dengan Panglima Jilah, dapat bermakna menjadi pelajaran bersama mengenai arti persaudaraan Dayak yang lebih luas dan dalam lagi ke depan.
“Ini memang sangat dalam untuk dipahami tentang makna persaudaraan,” ujar salah satu putra Dayak yang mencoba memberikan masukan.
Di tempat berbeda, Awing yang diwawancarai tentang hal tersebut hanya tersenyum saja. Ia mengaku tentu harus menghargai setiap usulan apapun. Sebagai sesama Dayak tentu ia harus menghormati Panglima Jilah, terlebih lagi kepada Panglima-Panglima di Barito Utara yang memang telah lama eksis berjuang untuk masyarakat Dayak dan telah berpengaruh kuat sesuai akar adatnya. Setiap kepedulian yang ditunjukan kepada masyarakat Dayak selayaknya harus diapresiasi menurutnya.







