105.000 Mobil Pikap Diimpor dari India untuk Koperasi Merah Putih, Nilainya Rp 24,6 Triliun

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Sebanyak 105.000 unit mobil pikap akan diimpor dari India untuk mendukung operasional program Koperasi Merah Putih. Total nilai pengadaan kendaraan tersebut mencapai Rp 24,66 triliun.

Pengadaan ini dilakukan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara, yang menggandeng sejumlah produsen otomotif asal India untuk memasok kendaraan niaga tersebut.

# Baca Juga :Pemkot Banjarbaru Buka Pelatihan Pengurus Koperasi Merah Putih, Perkuat SDM Menuju Indonesia Emas 2045

# Baca Juga :Wali Kota Banjarmasin Buka Bimtek Koperasi Merah Putih, Dorong Profesionalisme dan Transparansi

# Baca Juga :Pemprov Kalsel Perkuat Manajemen Koperasi Merah Putih di 2.013 Desa dan Kelurahan

# Baca Juga :Bupati Tabalong Harap Koperasi Merah Putih Jadi Penggerak Ekonomi Desa

35.000 Unit Pikap Mahindra Scorpio Didatangkan

Dari total impor, sebanyak 35.000 unit merupakan pikap Scorpio produksi Mahindra & Mahindra. Perusahaan tersebut menyatakan kendaraan mereka dirancang untuk menghadapi medan berat dengan biaya operasional yang tetap efisien.

“Pikap kami didesain untuk beroperasi di kondisi jalan berat namun tetap menjaga biaya operasional seminim mungkin. Volume yang dijanjikan dalam kemitraan ini akan secara signifikan meningkatkan operasi internasional kami,” ujar CEO Divisi Otomotif Mahindra & Mahindra Ltd, Nalinikanth Gollagunta, dikutip dari laman resmi perusahaan.

Tata Motors Pasok 70.000 Unit Pikap

Selain Mahindra, Tata Motors juga turut memasok kendaraan dalam jumlah besar. Sebanyak 70.000 unit lainnya terdiri dari:

35.000 unit pickup Tata Yodha

35.000 unit pikap Ultra T.7 Light Truck

Dengan demikian, keseluruhan proyek impor kendaraan ini tetap berada pada nilai total Rp 24,66 triliun.

Impor Jadi Sorotan, Industri Dalam Negeri Dinilai Mampu

Pengadaan mobil pikap dari luar negeri ini menuai perhatian, mengingat Indonesia dinilai memiliki kemampuan produksi kendaraan pickup yang cukup besar.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa apabila kebutuhan tersebut dipenuhi oleh produsen dalam negeri, dampak ekonomi yang dihasilkan bisa jauh lebih besar.

“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati industri luar negeri. Namun, jika dipenuhi industri dalam negeri, manfaat ekonomi dan lapangan kerja juga akan dirasakan di dalam negeri,” ujar Agus dalam siaran persnya.