JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Proyek jet tempur generasi keenam Eropa, Future Combat Air System (FCAS), kembali disorot setelah muncul laporan bahwa program pertahanan raksasa itu terancam gagal akibat perselisihan antara Jerman dan Prancis.
Meski demikian, CEO Airbus Defence and Space, Michael Schoellhorn, memastikan proyek tersebut tidak akan dihentikan. Namun ia mengakui akan ada restrukturisasi dalam sejumlah bagian penting program.
# Baca Juga :Nicole Kidman Dirumorkan Didekati Pengusaha Multimiliuner, Status Asmaranya Jadi Sorotan
# Baca Juga :TERNYATA SIM Mati Bisa Diperpanjang Tanpa Bikin Baru, Ini Syarat dan Biaya Lengkapnya
# Baca Juga :105.000 Mobil Pikap Diimpor dari India untuk Koperasi Merah Putih, Nilainya Rp 24,6 Triliun
# Baca Juga :Jadwal Liga Inggris Pekan Ini: Derby Tottenham vs Arsenal, Man City Hadapi Newcastle
“FCAS akan tetap ada,” tegas Schoellhorn dalam wawancara eksklusif. “Tetapi beberapa bagian proyek memang harus direstrukturisasi.”
Sengketa Airbus dan Dassault Aviation
FCAS merupakan proyek bersama Prancis, Jerman, dan Spanyol yang diluncurkan pada 2017 oleh Presiden Emmanuel Macron dan Kanselir Angela Merkel saat itu. Nilai proyek ini diperkirakan mencapai €100 miliar atau sekitar USD118 miliar.
Program ini bertujuan mengembangkan jet tempur generasi keenam yang terintegrasi dengan drone, teknologi combat cloud, serta sistem persenjataan canggih.
Dalam pembagian peran, Dassault Aviation memimpin pengembangan jet tempur berawak, sementara Airbus Defence and Space menangani komponen lainnya. Namun, kedua perusahaan terlibat perselisihan terkait spesifikasi pesawat, pembagian kerja, hingga pemilihan pemasok.
“Ya, ada persoalan terkait pesawat tempur berawak antara dua perusahaan. Salah satunya perusahaan saya,” ujar Schoellhorn.
Menurutnya, risiko proyek pertahanan berskala besar di Eropa bukan hanya soal kemauan politik, tetapi juga keselarasan industri.
Sinyal Pesimistis dari Jerman dan Prancis
Dalam beberapa pekan terakhir, muncul laporan bahwa FCAS berada di ambang kegagalan. Salah satu pemicunya adalah desakan Dassault untuk mempertahankan kendali penuh atas pengembangan jet tempur utama dalam proyek tersebut.
Pada Rabu (18/2), Kanselir Jerman Friedrich Merz memberi sinyal bahwa proyek jet tempur generasi keenam itu bisa saja dihentikan. Ia menilai desain pesawat saat ini lebih sesuai dengan kebutuhan militer Prancis dibandingkan Bundeswehr.
“Prancis ingin membangun satu model sesuai spesifikasi mereka. Tapi itu bukan yang kami butuhkan,” kata Merz. “Jika perbedaan kebutuhan ini tak bisa diselesaikan, proyek ini sulit dipertahankan.”
Sejumlah pejabat Prancis juga disebut-sebut mulai pesimistis. Bahkan, seorang anggota parlemen Prancis menyatakan bahwa peluang penghentian proyek lebih besar dibandingkan peluncuran ulang.
Namun, Menteri Delegasi Urusan Eropa Prancis, Benjamin Haddad, menegaskan komitmen negaranya terhadap FCAS.
“Kami mendukung FCAS,” ujarnya dalam Konferensi Keamanan München. Ia optimistis Dassault dan Airbus masih bisa mencapai kesepakatan.







