JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Rencana impor 105.000 unit kendaraan pikap dari India memicu sorotan tajam dari pelaku industri otomotif nasional. Kebijakan tersebut dinilai kontras dengan kapasitas produksi pabrikan dalam negeri yang disebut masih sangat memadai.
PT Agrinas Pangan Nusantara dikabarkan akan mendatangkan pikap dari India untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih. Namun langkah ini menuai respons dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo).
# Baca Juga :Neymar Buka Peluang Pensiun Akhir 2026, Fokus Terakhir: Piala Dunia dan Santos
# Baca Juga :Kuota Internet Hangus dan Paket 28 Hari Disorot Pakar IPB: Dinilai Merugikan dan Berpotensi Langgar UUPK
# Baca Juga :Bareskrim Geledah 16 Jam Toko Emas Semar Nganjuk, Seluruh Perhiasan dan Dokumen Disita
# Baca Juga :Kasus CPNS Bodong Anak Nia Daniaty Rugikan 179 Korban Rp 8,1 Miliar, Ganti Rugi Belum Dibayar
Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menegaskan bahwa anggota Gaikindo bersama industri pendukung, termasuk perusahaan komponen yang tergabung dalam GIAMM, pada dasarnya memiliki kapasitas untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Meski demikian, ia mengakui dibutuhkan waktu yang cukup agar jumlah dan spesifikasi kendaraan sesuai dengan permintaan.
Tujuh Pabrikan Siap Produksi Pikap
Gaikindo mencatat sedikitnya ada tujuh produsen di Indonesia yang mampu memproduksi kendaraan pikap, yaitu:
PT Suzuki Indomobil Motor
PT Isuzu Astra Motor Indonesia
PT Krama Yudha Tiga Berlian Motor
PT SGMW Motor Indonesia
PT Sokonindo Automobile
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia
PT Astra Daihatsu Motor
Secara total, kapasitas produksi pikap nasional disebut mencapai lebih dari 400.000 unit per tahun. Namun hingga kini, kapasitas tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
Mayoritas kendaraan yang diproduksi merupakan tipe penggerak 4×2 dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di atas 40 persen. Produk-produk tersebut telah lama menopang kebutuhan logistik dan usaha di berbagai daerah, didukung jaringan layanan purna jual yang tersebar luas.
Untuk model penggerak 4×4, industri dalam negeri juga disebut mampu memproduksi, meski membutuhkan waktu persiapan tambahan sebelum masuk tahap produksi massal.









