Lebih jauh, Decky Samuel menyoroti bahwa kendaraan yang dibeli merupakan kendaraan berbasis listrik, sebuah fakta yang kerap luput dari perhatian publik dalam perdebatan ini.
“Yang perlu dipahami masyarakat adalah ini mobil listrik. Dan mobil listrik dalam jangka panjang justru jauh lebih hemat dibanding kendaraan berbahan bakar konvensional,” terangnya.
BACA JUGA: Sinergi PKK dan BUMD Kaltim, 30 UMKM Tampil di Bazar Ramadan 2026
Ia merinci sejumlah keunggulan kendaraan listrik yang relevan secara fiskal:
Pertama, tidak ada pengeluaran untuk BBM. Kendaraan listrik menggunakan energi dari pengisian daya yang biayanya jauh lebih rendah dibanding konsumsi bahan bakar minyak, terutama di tengah fluktuasi harga BBM yang tidak menentu.
Kedua, biaya perawatan jauh lebih rendah. Mesin listrik tidak memiliki komponen kompleks seperti mesin bensin atau diesel — tidak ada penggantian oli rutin, filter bahan bakar, timing belt, dan berbagai komponen mekanis lain yang membutuhkan anggaran perawatan berkala yang tidak sedikit.
Ketiga, kendaraan listrik memiliki umur pakai yang lebih panjang jika dirawat dengan baik, sehingga frekuensi penggantian kendaraan dinas bisa ditekan dalam jangka waktu yang lebih lama. Ini berarti efisiensi nyata bagi APBD.







