JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Tiga karyawan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina di kawasan Cipinang, Pulogadung, Jakarta Timur, mengalami luka memar hingga gigi copot setelah diduga dianiaya seorang pelanggan yang mengaku sebagai anggota polisi.
Ketiga korban masing-masing bernama Khoirul Anam, Lukmanul Hakim, dan Abud Mahmudin. Mereka terdiri atas dua operator SPBU dan satu staf.
# Baca Juga :Satgas Militer AS Berperan di Balik Tewasnya El Mencho, Bos Kartel Paling Diburu di Meksiko
# Baca Juga :Update Klasemen Liga Inggris 2025-2026: MU Kokoh di Empat Besar Usai Tumbangkan Everton 0-1
# Baca Juga :TRAGIS! Influencer Brasil Bianca Dias Meninggal Dunia Usai Operasi Kecantikan, Diduga Alami Emboli Paru
# Baca Juga :Tolak Impor 105.000 Pikap dari India, IATO Tegaskan Industri Otomotif Nasional Mampu Produksi 1 Juta Unit per Tahun
Staf SPBU, Mukhlisin (38), menjelaskan, para korban mengalami luka di bagian wajah akibat tamparan dan benturan.
“Kalau Khoirul Anam itu di pipi, tamparan di pipi. Terus Lukman itu di rahang sebelah kanan. Terus Abud di bawah mata dan di pipi dekat mulut, jadi giginya copot,” ujar Mukhlisin saat ditemui di SPBU Pertamina Cipinang, Senin (23/2/2026).
Diduga Dipicu Masalah Barcode Pertalite
Peristiwa dugaan penganiayaan tersebut bermula saat terduga pelaku hendak mengisi bahan bakar jenis Pertalite menggunakan sistem barcode.
Menurut Mukhlisin, nomor barcode yang ditunjukkan memang terdaftar. Namun, kendaraan yang digunakan tidak sesuai dengan data yang tercantum dalam sistem.
“Sebenarnya pihak customer tersebut mengisi Pertalite dan nomor barcode-nya sesuai, tapi mobilnya tidak sesuai dengan yang terdaftar. Jadi peraturan nomor pelat dan mobil harus sesuai dengan data di sistem SPBU,” jelasnya.
Sesuai prosedur operasional standar (SOP), operator kemudian menyarankan agar pelanggan mengisi BBM jenis Pertamax sebagai alternatif. Untuk kendaraan diesel, biasanya disarankan menggunakan Pertamina Dex.
Namun, saran tersebut justru memicu kemarahan terduga pelaku.
“Dari pihak customer itu menyebut, ‘Ini mobil jenderal’. Terus di video juga dia menyebut Kapolda. Ada narasi kata-kata Kapolda ketika dia membentak-bentak,” kata Mukhlisin.
Pelaku Ngaku Kendaraan Milik Jenderal
Salah satu korban, Lukmanul Hakim (19), mengungkapkan kejadian itu berlangsung pada Minggu (22/2/2026) saat dirinya bertugas pada shift malam.
“Saya lagi jaga malam. Mobil pelaku masuk, saya tunggu sampai barcode-nya ada. Enggak lama dia marah-marah karena yang belakang antre. Dia bilang, ‘Siapa yang berani sama saya?’,” tutur Lukman.
Setelah barcode dipindai, diketahui kendaraan yang digunakan adalah Toyota Alphard, sementara barcode terdaftar untuk Toyota Kijang meski nomor pelatnya sama.







