Tragis! Jalan Rusak Parah, Jenazah Warga Seko Luwu Utara Diusung 50 Km karena Ambulans Tak Bisa Melintas

LUWU UTARA, KALIMANTANLIVE.COM – Kisah pilu datang dari Kecamatan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Jenazah Ester (22), warga Dusun Parahaleang, Desa Marante, harus diusung sejauh kurang lebih 50 kilometer dengan berjalan kaki akibat akses jalan rusak parah dan tidak bisa dilalui kendaraan.

Kondisi jalan yang berlumpur, berlubang, dan menanjak membuat mobil ambulans tidak dapat melintas hingga ke kampung halaman almarhumah.

# Baca Juga :3 Karyawan SPBU Cipinang Dianiaya Pelanggan Ngaku Polisi, Alami Memar hingga Gigi Copot

# Baca Juga :Satgas Militer AS Berperan di Balik Tewasnya El Mencho, Bos Kartel Paling Diburu di Meksiko

# Baca Juga :Update Klasemen Liga Inggris 2025-2026: MU Kokoh di Empat Besar Usai Tumbangkan Everton 0-1

# Baca Juga :TRAGIS! Influencer Brasil Bianca Dias Meninggal Dunia Usai Operasi Kecantikan, Diduga Alami Emboli Paru

Dirujuk via Pesawat Perintis, Meninggal di RS Andi Jemma

Bonar Suito, warga Kecamatan Seko, mengungkapkan bahwa sebelumnya Ester sempat menjalani perawatan di Puskesmas Seko. Karena kondisinya memburuk dan membutuhkan penanganan medis lanjutan, ia dirujuk ke RS Andi Jemma Masamba menggunakan pesawat perintis pada Jumat (20/2/2026).

“Ester dirujuk karena kondisinya sangat membutuhkan pemeriksaan lanjutan. Setelah dirawat di rumah sakit, ia meninggal dunia pada Sabtu (21/2/2026) sekitar pukul 23.00 Wita,” ujar Bonar, Senin (23/2/2026).

Almarhumah dikenal sebagai sosok yang ramah dan aktif dalam berbagai kegiatan masyarakat di desanya.

Keesokan harinya, Minggu (22/2/2026) sekitar pukul 08.30 Wita, jenazah diberangkatkan menuju Kecamatan Seko melalui jalur darat, melewati Kecamatan Sabbang dan Rongkong.

Ambulans Terhenti di Ujung Aspal

Namun, setibanya di ujung jalan beraspal di Kecamatan Rongkong, kendaraan yang membawa jenazah tidak dapat melanjutkan perjalanan. Medan yang ekstrem dengan kondisi tanah berlumpur dan jalan menanjak membuat ambulans mustahil melintas, terlebih di musim hujan.

“Dari ujung jalan beraspal sampai Parahaleang sekitar 50 kilometer. Kondisinya tidak bisa dilewati mobil, terutama jika musim hujan seperti ini,” jelas Bonar.

Tanpa pilihan lain, puluhan warga bergotong royong mengangkat keranda dan mengusung jenazah dengan berjalan kaki menuju Dusun Parahaleang.

Perjalanan panjang tersebut dimulai sejak sore hari dan berlanjut hingga malam. Dengan penerangan seadanya dari senter dan lampu sederhana, warga menembus gelapnya perbukitan dan hutan.

“Jalannya licin, becek, banyak berlubang dan berkubang. Kami harus ekstra hati-hati agar tidak tergelincir,” tambahnya.

Selain jarak yang jauh, rute yang dilalui juga penuh risiko. Beberapa titik memiliki lereng curam yang menguji kekuatan fisik warga yang secara bergantian memanggul jenazah. Mereka berjalan perlahan dan beberapa kali berhenti untuk beristirahat.