Berat Badan Naik Saat Puasa? Ini Penyebab dan Cara Mencegahnya Menurut Dokter

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Banyak orang terkejut ketika mendapati berat badan justru naik saat puasa. Padahal, durasi makan lebih singkat dibandingkan hari biasa. Lantas, apa penyebabnya?

Dokter spesialis kedokteran olahraga Rumah Sakit Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Risky Dwi Rahayu, M.Gizi, Sp.K.O, menjelaskan bahwa kenaikan berat badan selama Ramadan umumnya berkaitan dengan pola makan saat berbuka dan kurangnya aktivitas fisik.

# Baca Juga :Link Resmi dan Cara Daftar Mudik Gratis Kemenhub 2026, Dibuka 1–15 Maret

# Baca Juga :Mitsubishi Siap Luncurkan Mobil Hybrid Pertama di Indonesia Kuartal II 2026

# Baca Juga :Gareth Southgate Ungkap Alasan Tolak Manchester United: Tak Tertarik Kembali ke Liga Inggris

# Baca Juga :Harga Emas Antam Hari Ini 28 Februari 2026 Naik Rp 40.000, Tembus Rp 3.085.000 per Gram

“Berat badan naik itu belum tentu semuanya lemak, tetapi memang sering kali karena pola makan saat berbuka yang berlebihan,” ujar dr. Risky dalam jumpa pers daring, Rabu (18/2/2026).

Kenaikan Berat Badan Belum Tentu Lemak

Menurut dr. Risky, angka di timbangan tidak selalu mencerminkan peningkatan lemak tubuh. Kenaikan berat badan bisa berasal dari massa otot atau retensi cairan.

Ia menyarankan untuk memantau lingkar pinggang sebagai indikator sederhana. Jika lingkar pinggang bertambah, kemungkinan besar lemak tubuh yang meningkat. Sebaliknya, jika berat badan naik tetapi lingkar pinggang tetap atau mengecil, peningkatan bisa berasal dari massa otot.

Pola Makan Berbuka yang Berlebihan

Salah satu penyebab utama berat badan naik saat puasa adalah kebiasaan makan berlebihan saat berbuka.

Banyak orang langsung mengonsumsi makanan tinggi gula dan gorengan dalam jumlah besar. Minuman manis, sirup, kolak, serta camilan tinggi kalori sering kali menyebabkan lonjakan asupan energi.

Jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, kelebihan energi tersebut akan disimpan tubuh sebagai lemak.

Karbohidrat Sederhana Bikin Cepat Lapar

Karbohidrat sederhana dengan indeks glikemik tinggi memang cepat meningkatkan gula darah. Namun, penurunannya juga berlangsung cepat sehingga memicu rasa lapar kembali dalam waktu singkat.

Kondisi ini membuat seseorang cenderung makan lebih banyak. Untuk itu, dr. Risky menyarankan memilih karbohidrat kompleks agar rasa kenyang bertahan lebih lama dan kadar gula darah lebih stabil.

Kurang Olahraga atau Intensitas Tidak Tepat

Puasa bukan alasan untuk berhenti berolahraga. Kurangnya aktivitas fisik dapat meningkatkan risiko kelebihan kalori tersimpan sebagai lemak.

Sebaliknya, olahraga dengan intensitas terlalu tinggi tanpa pengaturan nutrisi yang baik juga tidak dianjurkan. Latihan dengan intensitas sedang dan durasi terukur dinilai lebih aman selama berpuasa.

Konsumsi Gorengan dan Makanan Tinggi Lemak

Makanan yang digoreng mengandung kalori lebih tinggi dibandingkan metode memasak lain. Kebiasaan mengonsumsi gorengan saat berbuka sering kali menambah asupan kalori tanpa disadari.

Jika dikonsumsi rutin dan dalam jumlah besar, total kalori harian bisa melebihi kebutuhan tubuh.