TEHERAN, KALIMANTANLIVE.COM – Wafatnya Ali Khamenei mengguncang fondasi politik Iran. Pemerintah mengumumkan bahwa Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudisial Gholamhossein Mohseni Ejei, dan seorang anggota Dewan Garda akan mengawasi masa transisi hingga pemimpin tertinggi baru ditetapkan.
Mekanisme Suksesi: Peran Majelis Ahli
Berdasarkan konstitusi, pengganti Khamenei harus dipilih oleh Majelis Ahli Kepemimpinan—lembaga beranggotakan 88 ulama yang dipilih setiap delapan tahun. Secara praktik, hanya kandidat yang dinilai loyal terhadap Republik Islam yang dapat maju, sehingga komposisi majelis saat ini didominasi ulama garis keras.
#baca juga:Legowo Kritikan, Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Kembalikan Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar
#baca juga:AS Mulai Kehilangan Pasukannya di Medan Iran, 3 Tentara Tewas, Pentagon Akui Ada Korban Gegar Otak
Konstitusi mengamanatkan pemilihan dilakukan secepatnya. Pada 1989, Khamenei ditetapkan pada hari yang sama ketika Ruhollah Khomeini wafat. Namun, kondisi keamanan akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel diperkirakan menyulitkan konsolidasi cepat seluruh anggota.
Nama-Nama Penerus dan Konsolidasi Elit
Spekulasi lama kembali mengemuka, termasuk soal kemungkinan peran Mojtaba Khamenei. Sejumlah laporan menyebut telah ada daftar ulama senior yang disiapkan sebagai opsi suksesi. Di saat bersamaan, elite keamanan dan militer berupaya menunjukkan kontrol tetap solid di tengah tekanan eksternal.
Serangan terbaru juga dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh keamanan, termasuk Panglima Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan pejabat tinggi lain, mempertegas bahwa struktur kekuasaan kini berada dalam “mode bertahan hidup”.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menegaskan Teheran akan menggunakan seluruh kapasitas pertahanan berdasarkan hak membela diri untuk menjaga keutuhan negara.
Risiko Eskalasi: Poros Perlawanan dan Perang Multi-Front
Analis dari European Council on Foreign Relations (ECFR), Ellie Geranmayeh, menilai momen ini bersifat eksistensial bagi Republik Islam. Menurutnya, Teheran bisa melihat “eskalasi maksimum” sebagai instrumen bertahan hidup.
Pandangan serupa disampaikan peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI), H A Hellyer, yang menyebut respons cepat Iran menunjukkan delegasi kewenangan dan kesiapan operasional sebelumnya.
Sementara itu, Sanam Vakil dari Chatham House menilai, dalam situasi mempertahankan kelangsungan rezim, Iran bisa memperluas konflik ke tingkat regional untuk meningkatkan biaya bagi lawan.










