KALIMANTANLIVE.COM – Harga emas dunia kembali bersinar tajam di awal pekan. Pada perdagangan Senin (2/3/2026), logam mulia ini melonjak lebih dari 1 persen setelah memanasnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot naik 1,35 persen menjadi 5.348,49 dollar AS per ons pada pukul 23.16 GMT atau 06.16 WIB. Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat melesat 2,2 persen ke level 5.362,30 dollar AS per ons.
# Baca Juga :Harga Emas Antam Hari Ini 28 Februari 2026 Naik Rp 40.000, Tembus Rp 3.085.000 per Gram
# Baca Juga :Harga Emas Antam 27 Februari 2026 Naik Lagi! Tembus Rp 3.045.000 per Gram
# Baca Juga :UPDATE HARGA EMAS 25 Februari 2026: UBS Tembus Rp3,099 Juta per Gram, Galeri24 Rp3,085 Juta, Cek Rincian Terbarunya!
# Baca Juga :Harga Emas Antam 18 Februari 2026 Tertahan di Rp 2,918 Juta per Gram, Investor Wajib Pantau Pergerakan Terbaru
Gejolak Geopolitik Dorong Permintaan Safe Haven
Lonjakan harga terjadi setelah Israel melancarkan gelombang serangan baru ke Teheran pada Minggu (1/3/2026), yang kemudian dibalas Iran dengan serangkaian serangan rudal. Situasi memanas ini berkembang sehari setelah laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Ketidakpastian geopolitik yang meningkat membuat investor beralih ke emas sebagai aset aman (safe haven). Analis independen Ross Norman menilai emas menjadi indikator paling jelas dalam mencerminkan lonjakan risiko global.
Ia menyebut, tekanan geopolitik yang terus meningkat berpotensi mendorong harga emas kembali mencetak rekor baru, terutama jika ketegangan antarnegara terus berlanjut.
Proyeksi Tembus 6.000 Dollar AS per Ons
Sepanjang 2025, harga emas telah melonjak sekitar 64 persen. Kenaikan signifikan ini didorong pembelian agresif oleh bank sentral, arus masuk yang kuat ke exchange-traded funds (ETF), serta ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di Amerika Serikat.
Pekan lalu, J.P. Morgan dan Bank of America kembali menegaskan proyeksi bullish terhadap emas. J.P. Morgan memperkirakan harga dapat mencapai 6.300 dollar AS per ons pada akhir 2026, ditopang permintaan bank sentral dan investor global.
Data Ekonomi AS Jadi Sorotan
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mencermati data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat. Laporan pada Jumat menunjukkan harga produsen meningkat lebih tinggi dari perkiraan pada Januari 2026, mengindikasikan potensi tekanan inflasi dalam beberapa bulan mendatang.
Fokus pasar pekan ini tertuju pada sejumlah data penting, seperti laporan ketenagakerjaan ADP, klaim pengangguran mingguan, hingga data non-farm payrolls yang kerap menjadi penentu arah kebijakan suku bunga.







