JAKARTA, Kalimantanlive.com — Warga Indonesia dapat menyaksikan fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) atau yang dikenal sebagai Blood Moon pada Selasa, 3 Maret 2026, bertepatan dengan bulan suci Ramadan. Puncak gerhana diperkirakan terjadi saat waktu berbuka puasa di wilayah Indonesia bagian barat.
Menurut Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu, A. Fachri Radjab, gerhana terjadi karena posisi Matahari, Bumi, dan Bulan sejajar, sehingga cahaya Matahari tertahan oleh Bumi dan Bulan berada dalam bayangan Bumi.
BACA JUGA: Fenomena Langit September 2025: Gerhana Bulan Darah, Parade Planet, hingga Bimasakti Super Jelas
Meski berada dalam bayangan Bumi, Bulan tidak sepenuhnya gelap. Fenomena hamburan Rayleigh membuat sebagian cahaya Matahari yang melewati atmosfer Bumi dibelokkan, sehingga Bulan tampak kemerahan. Inilah yang membuat fenomena ini populer disebut Blood Moon.
Fachri menjelaskan bahwa pola gerhana seperti ini baru akan kembali terjadi 18 tahun mendatang, sehingga menjadi momen langka bagi pengamat astronomi di Indonesia.
Jadwal gerhana di wilayah Indonesia Barat (WIB) adalah: awal fase penumbra pukul 15.00 WIB, gerhana sebagian pukul 16.40 WIB, puncak gerhana total pukul 18.03 WIB, dan fenomena berakhir sekitar pukul 21.00 WIB.
Fenomena ini dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke. Wilayah Indonesia bagian timur bahkan berkesempatan melihat seluruh fase gerhana sejak awal, karena Bulan sudah terbit saat gerhana dimulai.
Berbeda dengan gerhana Matahari, Gerhana Bulan Total dapat diamati langsung dengan mata telanjang, tanpa kacamata khusus.
BMKG akan melakukan pengamatan di 36 lokasi di seluruh Indonesia menggunakan teleskop, sekaligus menyiarkan secara langsung melalui kanal resmi Info BMKG.







