KALIMANTANLIVE.COM – Eskalasi konflik di Timur Tengah kian memanas. Tiga kekuatan utama Eropa, yakni Prancis, Jerman, dan Inggris, menyatakan kesiapan mengambil langkah defensif terhadap Iran jika situasi terus memburuk, Minggu (1/3/2026).
Ketiga negara tersebut menegaskan komitmen untuk melindungi kepentingan dan personel mereka di kawasan Teluk, menyusul gelombang serangan rudal dan drone yang dilancarkan Teheran ke sejumlah titik strategis.
# Baca Juga :Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khemenei Gugur, Iran Umumkan 40 Hari Berkabung Nasional
# Baca Juga :Perang Iran vs Israel-AS, Iran Serang Balik Tel Aviv dan Sejumlah Pangkalan Militer AS di Timur Tengah
# Baca Juga :BREAKING NEWS: Perang Iran vs Israel-AS Pecah, Ali Khamenei dan Presiden Pezeskian Selamat
# Baca Juga :Haul Ayahanda Bupati Kotabaru Berlangsung Khidmat, Dirangkai Buka Puasa dan Santunan Anak Yatim
Serangan Dinilai Tidak Proporsional
Para pemimpin Eropa menyatakan keterkejutan atas serangan yang dinilai dilakukan tanpa pandang bulu. Beberapa negara yang terdampak disebut tidak terlibat langsung dalam operasi militer awal yang dipimpin Amerika Serikat bersama Israel.
Dalam pernyataan bersama yang dikutip dari AFP, mereka mendesak Iran segera menghentikan aksi militer yang dianggap mengancam stabilitas kawasan serta keselamatan warga sipil dan personel militer sekutu.
Ketiga negara Eropa itu juga menyatakan telah sepakat untuk berkoordinasi erat dengan Amerika Serikat dan mitra di Timur Tengah guna merespons perkembangan terbaru.
Fasilitas Militer Eropa Ikut Terdampak
Iran dilaporkan meluncurkan serangan rudal dan pesawat tak berawak ke beberapa negara Teluk, dengan sasaran utama pangkalan militer Amerika Serikat. Serangan ini disebut sebagai respons atas operasi militer gabungan AS-Israel sejak Sabtu (28/2/2026).
Pangkalan multinasional di dekat Arbil, Irak utara, serta kamp militer Jerman di timur Yordania turut menjadi target. Hingga laporan ini disusun, tidak ada korban jiwa dari serangan di fasilitas tersebut.
Dampak Regional Meluas
Garda Revolusi Iran mengumumkan operasi berskala besar pada Minggu (1/3/2026) setelah kabar wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Ledakan dilaporkan terdengar di sejumlah kota besar seperti Riyadh, Dubai, Abu Dhabi, Doha, Manama, Yerusalem, dan Tel Aviv. Layanan penyelamatan Israel menyebut sedikitnya sembilan orang tewas di kota Beit Shemesh.
Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa kematian Khamenei dipandang sebagai deklarasi perang terhadap umat Muslim. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan negaranya akan membela diri tanpa batasan demi melindungi rakyatnya.
Situasi yang terus berkembang ini memicu kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi konflik berskala lebih luas. Negara-negara di kawasan dan komunitas global kini menanti langkah diplomasi berikutnya untuk mencegah perang terbuka yang dapat berdampak luas secara geopolitik maupun ekonomi global.
(kalimantanlive.com/berbagai sumber)
editor : TRI







