JAKARTA, Kalimantanlive.com — Nama Mojtaba Khamenei muncul sebagai calon terkuat untuk menjadi Pemimpin Tertinggi Iran berikutnya, menyusul kabar tewasnya Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menyatakan pemerintah akan membentuk dewan kepemimpinan sementara mulai Minggu (1/3/2026) untuk mengatur proses transisi.
Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, dikenal memiliki pengaruh signifikan di kalangan pejabat pemerintah serta di Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), badan militer paling berpengaruh di Iran.
Meski memiliki pengaruh, garis keturunannya menjadi tantangan. Mojtaba dilaporkan menentang praktik suksesi dari ayah ke anak, yang dianggap kontroversial di Iran, terutama setelah pengalaman sejarah monarki Shah Mohammad Reza Pahlavi yang didukung AS digulingkan pada 1979.
Pasal 107 Konstitusi Iran menegaskan bahwa penentuan Pemimpin Tertinggi berada di tangan Majelis Pakar, lembaga yang anggotanya dipilih rakyat dan memiliki wewenang tunggal untuk memilih pemimpin baru.
Majelis Pakar terdiri dari 88 ulama dan ahli hukum senior yang dipilih melalui pemilu untuk masa jabatan delapan tahun. Lembaga ini bertugas memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi, termasuk mengangkat pemimpin baru jika terjadi kematian atau pengunduran diri.
Sejak Revolusi 1979, Iran hanya memiliki dua pemimpin tertinggi: Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam, dan Ali Khamenei yang menggantikannya pada 1989. Majelis Pakar saat ini dipimpin oleh ulama senior Mohammad Ali Movahedi Kermani, setelah pemilu terakhir pada 2024.









