NEW YORK, Kalimantanlive.com — Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa operasi militer AS terhadap Iran kemungkinan akan berlangsung empat pekan atau kurang, dalam wawancara dengan Daily Mail pada Ahad (1/3/2026).
“Prosesnya selalu memakan waktu sekitar empat pekan. Kami memperkirakan akan memakan waktu sekitar empat pekan, jadi—sekuat apa pun negara ini—akan memakan waktu empat pekan atau kurang,” ujar Trump.
BACA JUGA: Rupiah Melemah ke Rp16.848 per Dolar AS, Pasar Waspada Jelang Pidato Trump
Presiden AS juga menekankan bahwa kemungkinan akan ada korban jiwa baru di kalangan militer AS selama operasi yang sedang berlangsung di wilayah Iran dan sekitarnya.
Trump menambahkan bahwa Iran diharapkan memulai perundingan setelah operasi militer AS selesai. Ia menekankan bahwa Teheran “seharusnya berbicara pekan lalu, bukan pekan ini,” menyinggung diplomasi yang tertunda.
Operasi militer ini dipicu oleh serangan gabungan AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026) terhadap target-target di Iran, termasuk fasilitas di Teheran, yang dilaporkan menimbulkan kerusakan dan korban sipil.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel serta ke fasilitas militer AS di Timur Tengah, yang menurut Teheran merupakan langkah perlindungan diri.
Trump tidak merinci strategi rinci operasi militer tersebut, tetapi menegaskan bahwa durasi dan intensitas operasi telah dipertimbangkan secara matang oleh militer AS.
Situasi ini mencerminkan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, meskipun pekan ini sempat berlangsung perundingan terkait isu nuklir Iran yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, Swiss.
Pernyataan Trump memberikan gambaran bahwa pemerintah AS mengantisipasi konflik yang cepat dan terfokus, sambil tetap membuka peluang diplomasi setelah operasi selesai, guna menekan risiko konflik lebih luas.
Sumber: Antaranews.com










