JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Total utang masyarakat Indonesia di layanan pinjaman online (pinjol) dan buy now pay later (BNPL/paylater) menembus Rp125,64 triliun per Januari 2026. Data tersebut dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dari total tersebut, pinjol atau fintech peer to peer lending masih menjadi penyumbang terbesar dibandingkan paylater.
# Baca Juga :TEGAS! THR Idul Fitri 2026 Wajib Cair Paling Lambat H-7, Menaker: Tidak Boleh Dicicil
# Baca Juga :Jangan Langsung Rebahan Usai Sahur! Dokter Ungkap Risiko Gangguan Lambung hingga GERD
# Baca Juga :Jet Rp1,3 Triliun Cristiano Ronaldo Mendarat di Madrid, Isu “Ngungsi” Takut Perang Iran vs Israel?
# Baca Juga :Jelang Final Four Proliga 2026, Megawati Blak-blakan Soal Evaluasi JPE: Semua Lini Harus Berbenah!
Pinjol Nyaris Rp100 Triliun
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, mengungkapkan outstanding pembiayaan pinjol pada Januari 2026 mencapai Rp98,54 triliun.
Angka ini tumbuh 25,52 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp78,50 triliun. Pertumbuhan tersebut bahkan sedikit lebih tinggi dibanding Desember 2025 yang tercatat 25,44 persen (yoy).
Namun, di balik pertumbuhan tersebut, risiko kredit macet juga meningkat. Tingkat wanprestasi 90 hari (TWP90) secara agregat mencapai 4,38 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding Desember 2025 sebesar 4,32 persen dan melonjak signifikan dari Januari tahun lalu yang hanya 2,52 persen.
Paylater Rp27,1 Triliun
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebut baki debet kredit paylater per Januari 2026 tercatat Rp27,1 triliun.
Nilai tersebut tumbuh 20,15 persen (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan Desember 2025 sebesar 19,32 persen. Meski tumbuh solid, kontribusinya terhadap total kredit perbankan nasional masih relatif kecil, yakni sekitar 0,32 persen.
Dari sisi pengguna, jumlah rekening paylater meningkat tipis dari 31,21 juta rekening pada Desember 2025 menjadi 31,23 juta rekening pada Januari 2026.







