JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Ancaman mikroplastik kini tak lagi sebatas mencemari laut dan udara. Sejumlah penelitian terbaru mengungkap partikel plastik berukuran sangat kecil itu telah terdeteksi dalam buah dan sayuran yang dikonsumsi sehari-hari.
Temuan ini dipaparkan dalam artikel berjudul “Microplastics in Fruits and Vegetables: Health Risk and Ways to Prevent” yang dimuat di media internasional BioWellBeing. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa mikroplastik dapat masuk ke tanaman melalui sistem akar yang terpapar tanah dan air irigasi yang telah terkontaminasi.
# Baca Juga :Jeruk: Buah Segar Penurun Stres di Tengah Riuhnya Pikiran
# Baca Juga :Diduga Melakukan Pencurian Tandah Buah Segar Disertai Ancaman, Mantan Wakil Rakyat Tala Diamankan
# Baca Juga :Nikmat dan Segar Disantap Kala Sahur, Ini Cara Membuat Puding Sutra Buah Lengkeng
# Baca Juga :GAPKI Kalteng Angkat Bicara soal 4 Warga Diduga Ditembak Usai Curi Buah Sawit di Kotim
Mikroplastik terbentuk dari pecahan plastik yang tidak terurai secara alami dan kemudian hancur menjadi partikel sangat kecil. Partikel inilah yang mencemari tanah dan sumber air, lalu terserap oleh tanaman dan terakumulasi di jaringan akar hingga bagian yang dikonsumsi manusia.
Tak hanya dari lingkungan, kontaminasi juga diduga berasal dari penggunaan plastik dalam proses penyimpanan dan distribusi produk pangan. Kemasan berbahan plastik berpotensi melepaskan partikel mikro yang menempel pada permukaan makanan.
Salah satu temuan yang menyita perhatian adalah tingginya konsentrasi mikroplastik pada apel. Rata-rata, apel dilaporkan mengandung sekitar 195.500 partikel mikroplastik per gram, menjadikannya salah satu buah dengan kadar tertinggi dalam penelitian tersebut.
Selain apel, sejumlah sayuran seperti wortel, selada, dan brokoli juga dilaporkan memiliki tingkat kontaminasi yang cukup signifikan.
Para peneliti menilai keberadaan mikroplastik dalam buah dan sayuran sebagai isu global yang serius karena berpotensi masuk ke rantai makanan manusia. Meski demikian, dampak jangka panjang terhadap kesehatan akibat konsumsi mikroplastik masih terus diteliti dan belum sepenuhnya dipahami.







