FAKTA PASAR OTOMOTIF! Mobil Bekas China Sulit Saingi Jepang di Indonesia, Ini Penyebab Utamanya

JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pasar mobil bekas di Indonesia masih didominasi merek-merek Jepang. Sementara itu, mobil bekas dari produsen China hingga kini belum mampu menyaingi popularitas kendaraan Jepang di pasar nasional.

Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar, mengungkapkan bahwa penjualan mobil bekas di platform tersebut masih dikuasai merek Jepang seperti Toyota, Honda, dan Suzuki. Bahkan, tidak ada satu pun merek China yang masuk dalam daftar mobil bekas terlaris sepanjang tahun lalu.

#baca juga:APBN Februari 2026 Defisit Rp135,7 Triliun, Pemerintah Beberkan Penyebab dan Strateginya

#baca juga:HEBOH PENEMUAN ILMIAH! Asteroid Raksasa Hantam Bumi 6,3 Juta Tahun Lalu, Ilmuwan Temukan “Lautan Kaca” Misterius di Brasil

#baca juga:ALARM DI ETIHAD! Pep Guardiola Dipusingkan Jadwal Neraka Manchester City, Lima Laga Berat Menanti dalam Dua Pekan

#baca juga:BREAKING NEWS! BMKG Ingatkan Ancaman Hujan Lebat Mengguyur Kalsel–Kalteng Hari Ini, Sejumlah Wilayah Siaga Banjir dan Angin Kencang

Menurut Agung, salah satu faktor utama adalah usia keberadaan merek China di Indonesia yang masih relatif baru dibandingkan produsen Jepang. Akibatnya, populasi kendaraan bekas dari brand China masih jauh lebih sedikit di pasar.

Depresiasi Harga Lebih Tinggi

Selain jumlah unit yang terbatas, faktor lain yang memengaruhi rendahnya minat konsumen terhadap mobil bekas China adalah depresiasi harga yang lebih besar.

Beberapa model dari pabrikan China seperti Wuling memang sudah mulai memiliki populasi cukup besar di Indonesia, misalnya Wuling Almaz dan Wuling Confero. Namun, nilai jual kembali kendaraan tersebut dinilai lebih cepat turun dibandingkan mobil Jepang.

“Peminatnya ada, tapi depresiasi harganya lebih besar dibandingkan mobil-mobil Jepang,” ujar Agung saat ditemui di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.

Kendala Pembiayaan Kredit

Selain faktor harga, masalah lain yang cukup memengaruhi pasar adalah terbatasnya perusahaan pembiayaan yang bersedia memberikan kredit untuk mobil bekas merek China.

Kalaupun ada lembaga pembiayaan yang bersedia, biasanya mereka menetapkan uang muka atau down payment (DP) yang lebih tinggi dibandingkan kendaraan Jepang.

“Peminat ada, tapi masalahnya mobil bekas China depresiasinya lebih besar. Kedua, tidak banyak perusahaan pembiayaan yang mau membiayai. Kalaupun ada, biasanya meminta DP yang besar,” jelas Agung.