JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pasar keuangan global diguncang lonjakan tajam harga minyak mentah yang sempat menembus level 100 dolar AS per barel. Kondisi ini memicu tekanan di bursa saham Amerika Serikat atau Dow Jones Industrial Average dan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi stagflasi, yakni situasi ketika pertumbuhan ekonomi melambat sementara inflasi tetap tinggi.
Pada perdagangan Senin (9/3/2026), indeks saham utama di Wall Street bergerak bervariasi setelah pasar bereaksi terhadap lonjakan harga energi yang memicu ketidakpastian ekonomi global.
#baca juga:Harga Emas Antam Melejit Rp43.000 Hari Ini, Tembus Rp3,047 Juta per Gram! Cek Daftar Lengkapnya
#baca juga:Harta Kekayaan Bupati Rejang Lebong Muhammad Fikri Thobari yang Terjaring OTT KPK, Intip Profilnya
Indeks Dow Jones Industrial Average tercatat turun sekitar 338 poin atau 0,7 persen. Penurunan ini terjadi setelah indeks tersebut sebelumnya mengalami pelemahan mingguan terbesar dalam hampir satu tahun terakhir.
Sementara itu, indeks S&P 500 melemah sekitar 0,3 persen. Di sisi lain, indeks teknologi Nasdaq Composite justru mencatat kenaikan tipis sekitar 0,1 persen pada penutupan perdagangan.
Pada awal sesi, tekanan pasar sebenarnya jauh lebih besar. Dow Jones sempat merosot hampir 900 poin di titik terendahnya, sementara S&P 500 dan Nasdaq sempat terkoreksi sekitar 1,5 persen sebelum akhirnya pulih sebagian.
Saham teknologi tahan tekanan pasar
Pelemahan pasar saham mulai mereda setelah sektor semikonduktor menunjukkan penguatan. Beberapa saham teknologi besar berhasil mencatat kenaikan yang membantu menahan penurunan indeks.
Saham Broadcom melonjak lebih dari 3 persen. Sementara itu saham Micron Technology dan Advanced Micro Devices masing-masing naik sekitar 2 persen.
Saham perusahaan kecerdasan buatan terkemuka Nvidia juga ikut menguat hampir 1 persen sehingga membantu mengurangi tekanan yang lebih dalam pada pasar saham.
Harga minyak melonjak tajam
Lonjakan harga minyak menjadi faktor utama yang mengguncang pasar global. Minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate, sempat melampaui 100 dolar AS per barel dan bahkan menyentuh level lebih dari 119 dolar AS.
Ini merupakan pertama kalinya harga minyak mencapai level tersebut sejak 2022, ketika pasar energi global bergejolak akibat invasi Rusia ke Ukraina.
Pada perdagangan terakhir, harga minyak WTI masih tercatat naik sekitar 4 persen ke kisaran hampir 95 dolar AS per barel. Sementara itu minyak acuan global Brent Crude meningkat sekitar 6 persen ke level sekitar 99 dolar AS per barel.
Kenaikan harga energi ini dipicu gangguan pasokan minyak dunia setelah beberapa produsen besar di Timur Tengah memangkas produksi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan tersebut.
Selat Hormuz terganggu, pasokan energi terancam
Salah satu faktor utama lonjakan harga minyak adalah terganggunya jalur distribusi energi global di Strait of Hormuz.
Selat ini merupakan jalur laut vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia. Gangguan di kawasan tersebut membuat distribusi energi dari negara-negara produsen seperti Saudi Arabia, Iraq, United Arab Emirates, dan Oman menjadi terhambat.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa produksi minyak Kuwait mulai dikurangi, sementara produksi minyak Irak dilaporkan turun hingga sekitar 70 persen akibat kondisi keamanan yang memburuk.







