Dia bahkan memberi tenggat waktu agar perubahan bisa segera dirasakan warga.
“Masalah mushola ini tolong benar-benar diperhatikan. Kendalanya apa, segera dicari solusinya. Begitu juga lampu yang redup dan pagar yang rembes, jangan dibiarkan. Saya minta dinas terkait bergerak cepat. Kalau dalam sebulan tidak ada perubahan, lebih baik mundur saja dari jabatan,” tegas Yamin di hadapan para kepala dinas dan warga.
Baca juga : Gerakan Pilah Plastik Menggema di Safari Ramadan Wali Kota Banjarmasin
Tidak hanya menyoroti fasilitas lingkungan, Yamin juga menekankan pentingnya perhatian terhadap masa depan anak-anak yang tinggal di rumah susun tersebut.
Dia meminta Dinas Pendidikan untuk menyiapkan program pembelajaran tambahan, termasuk penguasaan bahasa asing sebagai bekal menghadapi persaingan global.
“Anak-anak di rusun ini harus punya kesempatan yang sama. Kita dorong mereka belajar bahasa Arab, bahasa Inggris, atau keterampilan lain. Kalau ada yang sudah kelas tiga SMA dan ingin kuliah, kita siapkan jalur beasiswa. Jangan sampai mereka kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi,” ujarnya.
Secara tidak langsung, kondisi rusun yang dihuni masyarakat dengan latar belakang ekonomi menengah ke bawah menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah.
Di satu sisi, keterbatasan fasilitas dan kebutuhan sosial warga menuntut perhatian serius. Namun di sisi lain, adanya keterlibatan langsung pemerintah membuka peluang perbaikan kualitas hidup melalui program pendidikan, perbaikan infrastruktur, serta bantuan sosial yang lebih tepat sasaran.







