Proporsi penyaluran kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit di Kalsel lanjutnya, yaitu sebesar 26,86 persen. Dan sektor UMKM yang banyak menerima pembiayaan yaitu Industri Pengolahan (meningkat 21,90 persen yoy).
Sementara itu, peningkatan Aset di Kalsel tercatat sebesar 6,05 persen yoy, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik sebesar 5,68 persen yoy, dan Kredit bertumbuh 6,71 persen yoy.
Baca juga : OJK Sumut Buka Kesempatan Terakhir bagi Usaha Gadai Swasta Ajukan Izin
Adapun sumber peningkatan DPK terbesar bersumber dari giro sebesar 11,97 persen yoy, tabungan sebesar 3,92 persen yoy, dan deposito sebesar 0,74 persen yoy. Secara spasial, pangsa DPK terbesar berada di Kota Banjarmasin (Rp 61,2 triliun), atau mengambil porsi sebesar 62,42 persen.
Indikator kinerja perbankan syariah tercatat mengalami penyesuaian. Aset tercatat mengalami penurunan sebesar 12,97 persen yoy atau menjadi Rp 10,49 triliun, sedangkan pembiayaan meningkat sebanyak 10,33 persen yoy atau menjadi Rp 9,36 triliun.
Sementara DPK mengalami kontraksi sebesar 6,34 persen yoy. Meskipun demikian, likuiditas perbankan syariah terjaga di angka 100,54 persen dan NPF gross di bawah threshold yaitu 2,03 persen.
Untuk perkembangan sektor Pasar Modal di Kalsel pada Desember 2025 melanjutkan tren positif. Nilai transaksi saham tercatat sebesar Rp 3,62 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan jumlah Single Investor Identification (SID) saham yang tumbuh konsisten hingga mencapai 497.131 investor pada akhir tahun.
Di sisi lain, instrumen reksa dana juga menunjukkan penguatan dengan nilai penjualan di Kalsel sebesar Rp 0,715 triliun, didukung oleh basis investor reksa dana yang tumbuh pesat hingga mencapai 995.860 SID.










