Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Dengan kondisi tersebut, kemungkinan besar hilal belum dapat terlihat sehingga awal Syawal diperkirakan jatuh pada keesokan harinya.
Namun, Thomas juga menjelaskan bahwa jika menggunakan kriteria KHGT seperti yang dipakai Muhammadiyah, maka 1 Syawal bisa saja jatuh pada 20 Maret 2026.
Data Hilal Versi BMKG
Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika menyebut konjungsi atau ijtima terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB.
BMKG juga memaparkan prakiraan posisi hilal saat matahari terbenam di Indonesia pada tanggal tersebut:
Ketinggian hilal: sekitar 0,91° di Merauke hingga 3,13° di Sabang
Elongasi: antara 4,54° hingga 6,1°
Umur bulan: sekitar 7 hingga 10 jam
Secara astronomis, rukyatul hilal untuk menentukan awal Syawal akan dilakukan setelah matahari terbenam pada 19 Maret 2026.
Dengan berbagai perhitungan tersebut, masyarakat masih perlu menunggu hasil sidang isbat pemerintah untuk memastikan kapan tepatnya Hari Raya Idul Fitri 2026 dirayakan di Indonesia.
(kalimantanlive.com/berbagai sumber)
editor : TRI







