MOMEN LANGKA! Astronom Rekam Tabrakan Dua Planet di Galaksi, Terjadi 11.000 Tahun Cahaya dari Bumi

WARTABANJAR.COM – Para ilmuwan menduga telah menyaksikan salah satu peristiwa kosmik paling langka di alam semesta, yakni tabrakan dua planet di sistem bintang yang sangat jauh dari Bumi.

Peristiwa dramatis ini diperkirakan terjadi sekitar 11.000 tahun cahaya dari Bumi, tepatnya di sekitar bintang bernama Gaia20ehk yang memiliki karakteristik mirip dengan Matahari.

Awalnya, bintang tersebut terlihat normal seperti bintang sejenis lainnya. Namun para peneliti mulai menemukan perubahan aneh pada tingkat kecerahannya saat memeriksa data pengamatan teleskop dari beberapa tahun terakhir.

# Baca Juga :HEBOH! 25 Kg Kokain Terdampar di Pantai Selayar, Polisi Duga Jaringan Narkoba Internasional dari Kolombia

# Baca Juga :BREAKING NEWS! Kemenkes Siapkan 7.000 Posko Kesehatan Mudik, Pemudik Bisa Cek Kesehatan Gratis hingga Imunisasi Campak

# Baca Juga :VIRAL! Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras Usai Podcast, Sosoknya Pernah Geruduk Rapat RUU TNI di Hotel Mewah

# Baca Juga :Harga Pertamax Terbaru 14 Maret 2026 di Seluruh Indonesia, Cek Tarif BBM di Daerahmu

Penemuan ini pertama kali disadari oleh Anastasios Tzanidakis, kandidat doktor astronomi dari University of Washington. Ia menemukan bahwa cahaya dari bintang tersebut mengalami penurunan yang tidak biasa.

Menurutnya, bintang yang stabil seperti Matahari seharusnya memiliki tingkat kecerahan yang relatif konstan. Namun sejak 2016, peneliti melihat adanya beberapa penurunan cahaya yang tidak dapat dijelaskan.

“Output cahaya bintang itu awalnya stabil, tetapi mulai 2016 muncul tiga penurunan kecerahan. Lalu sekitar 2021 perilakunya menjadi sangat aneh,” ungkapnya seperti dikutip dari ScienceDaily.

Diduga Akibat Tabrakan Planet

Setelah dianalisis lebih lanjut, para ilmuwan menyimpulkan bahwa perubahan cahaya tersebut kemungkinan besar bukan berasal dari bintang itu sendiri.

Sebaliknya, cahaya bintang diduga tertutup oleh awan debu dan material panas yang melintas di depannya. Debu tersebut diperkirakan merupakan sisa dari tabrakan besar antara dua planet di sistem bintang tersebut.

Tabrakan dahsyat itu diyakini menghasilkan pecahan batuan serta material lain yang menyebar luas dan membentuk awan debris di sekitar bintang.

Peristiwa seperti ini sangat jarang dapat diamati secara langsung oleh para astronom karena berlangsung dalam skala kosmik yang sangat luas.

Penelitian mengenai fenomena tersebut dipublikasikan pada 11 Maret 2026 dalam jurnal ilmiah The Astrophysical Journal Letters.

Astronom lain yang terlibat dalam riset ini, James Davenport, mengatakan bahwa pengamatan semacam ini sangat penting untuk memahami bagaimana planet terbentuk dan berevolusi.