JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Harga minyak dunia diperkirakan terus meningkat seiring konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang telah memasuki minggu ketiga. Ketegangan yang juga melibatkan Israel ini memicu gangguan besar pada pasokan energi global.
Salah satu faktor utama yang memicu lonjakan harga adalah penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang merupakan rute vital bagi sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
# Baca Juga :Ancaman Bom di Udara! Pesawat JetBlue Disambut Polisi dan FBI Saat Mendarat di Florida
# Baca Juga :VIRAL! Bagi Kelapa Utuh di Program Makan Gratis, 9 SPPG di Gresik Ditutup Sementara
# Baca Juga :VIRAL! Bagi Kelapa Utuh di Program Makan Gratis, 9 SPPG di Gresik Ditutup Sementara
# Baca Juga :Harga Emas Antam Turun Rp5.000, Kini di Bawah Rp3 Juta per Gram
Akibat konflik tersebut, harga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dari AS melonjak lebih dari 40 persen sepanjang bulan ini, mencapai level tertinggi sejak 2022.
Trump Desak Koalisi Amankan Selat Hormuz
Presiden AS Donald Trump mendesak negara-negara sekutu untuk mengerahkan kapal perang guna mengamankan jalur strategis tersebut. Ia juga disebut tengah menyiapkan koalisi internasional untuk mengawal kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz.
Selain itu, Trump mengancam akan melancarkan serangan lanjutan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg, setelah militer AS menyerang sejumlah target militer Iran pada Sabtu (14/3/2026).
Ancaman tersebut memicu respons balasan dari Iran yang semakin meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Terminal Minyak UEA Diserang Drone
Tidak lama setelah serangan di Pulau Kharg, drone Iran dilaporkan menyerang terminal minyak utama di Fujairah, Uni Emirat Arab.
Fujairah sendiri merupakan jalur penting pengiriman minyak mentah Murban, dengan kapasitas sekitar 1 juta barel per hari atau setara sekitar 1 persen dari permintaan minyak dunia.
Analis dari JPMorgan, Natasha Kaneva, menyebut situasi ini menandai peningkatan eskalasi konflik di kawasan Teluk.
“Ini menandai peningkatan konflik,” ujarnya seperti dikutip dari Reuters, Senin (16/3/2026).
Selain Fujairah, sejumlah fasilitas energi penting seperti terminal ekspor di Ras Tanura dan fasilitas pengolahan minyak Abqaiq di Arab Saudi juga dinilai sangat rentan terhadap serangan.










