TEHERAN, Kalimantanlive.com – Iran untuk pertama kalinya menggunakan rudal Haj Qasem dalam konflik yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat dan Israel, lapor kantor berita Fars, Selasa (17/3/2026), mengutip pernyataan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Menurut IRGC, rudal tersebut diluncurkan dalam rangkaian operasi militer terbaru, termasuk fase ke-59 operasi “True Promise 4,” yang menargetkan pangkalan militer AS di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, serta wilayah Kurdistan Irak.
BACA JUGA: Trump Tunda Kunjungan ke China, Fokus Perang AS-Israel Lawan Iran
Selain target militer AS, laporan Garda Revolusi juga menyebut serangan diarahkan ke sejumlah kota di Israel, antara lain Tel Aviv, Yerusalem Barat, dan Beit Shemesh. Rudal Haj Qasem digunakan sebagai bagian dari operasi ini, menandai penggunaan perdananya dalam konflik saat ini.
Haj Qasem merupakan rudal balistik taktis berbahan bakar padat yang sebelumnya pernah digunakan dalam konflik dengan Israel pada Juni 2025. Rudal ini diperkenalkan pada 2020 dan diklaim memiliki jangkauan sekitar 1.400 kilometer, cukup untuk mencapai target di kawasan Timur Tengah.
IRGC menyatakan bahwa penggunaan rudal ini merupakan respons terhadap serangkaian operasi militer gabungan yang dilakukan AS dan Israel pada 28 Februari lalu. Operasi tersebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, serta lebih dari 150 murid sekolah perempuan di Iran selatan, menurut laporan Iran.
Sejak serangan tersebut, Iran melaporkan lebih dari 1.200 orang tewas dan lebih dari 17.000 lainnya terluka. Serangan balasan ini dilakukan sebagai upaya menekan kekuatan militer AS dan Israel di wilayah regional.
Amerika Serikat dan Israel awalnya menyebut operasi gabungan 28 Februari sebagai “serangan pendahuluan” untuk menanggulangi ancaman dari program nuklir Iran. Namun, kemudian mereka menyatakan tujuan jangka panjangnya adalah untuk melemahkan rezim yang berkuasa di Teheran.
Para analis menilai penggunaan rudal Haj Qasem oleh Iran menandai eskalasi signifikan dalam konflik yang telah berlangsung bertahun-tahun, sekaligus menunjukkan kemampuan teknologi militer balistik Iran semakin matang dan siap digunakan di medan tempur nyata.







