JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Fenomena cuaca panas yang terasa semakin menyengat di berbagai wilayah Indonesia akhirnya dijelaskan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kondisi ini disebut bukan hal aneh, melainkan bagian dari siklus alam yang rutin terjadi.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, mengungkapkan bahwa penyebab utama suhu panas ini adalah fenomena gerak semu tahunan Matahari.
#baca juga:Lewandowski Lampaui Rekor Lionel Messi di Liga Champions, Barcelona Makin Menggila
#baca juga:Harga Emas Antam Hari Ini Masih Tahan di Rp2,996 Juta per Gram, Investor Tunggu Update Pagi Ini
Penyebab Cuaca Panas: Matahari Tepat di Atas Indonesia
Fenomena ini terjadi saat posisi semu Matahari berada di sekitar garis ekuator, sehingga wilayah Indonesia menerima penyinaran yang lebih maksimal.
Selain itu, beberapa faktor lain turut memperparah kondisi panas:
Minimnya tutupan awan pada siang hari
Kecepatan angin yang relatif lemah
Kelembapan udara yang mendukung pemanasan permukaan
Akibatnya, suhu udara terasa lebih terik, terutama saat siang hingga sore hari.
Sampai Kapan Cuaca Panas Terjadi?
BMKG memperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung hingga April 2026. Bahkan, ada dua periode utama suhu panas di Indonesia, yakni:
Maret – April
September – Oktober
Memasuki April, sejumlah wilayah juga mulai beralih ke musim kemarau, yang membuat cuaca panas terasa semakin intens karena berkurangnya hujan dan awan.
Bukan Gelombang Panas
Meski suhu terasa menyengat, BMKG menegaskan bahwa kondisi ini bukan gelombang panas (heatwave).
Fenomena heatwave umumnya terjadi di wilayah subtropis dengan lonjakan suhu ekstrem dalam waktu lama. Sementara di Indonesia, suhu masih dalam batas normal iklim tropis.
Namun, efek panas bisa terasa lebih kuat di perkotaan akibat fenomena urban heat island, yaitu kondisi di mana bangunan dan aspal menyerap serta menyimpan panas lebih lama.







