Iran Tegas Bantah Negosiasi dengan AS, Tuduh Trump Coba Redakan Gejolak Pasar

ISTANBUL, Kalimantanlive.com – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan setelah pemerintah Iran dengan tegas membantah adanya pembicaraan atau negosiasi antara kedua negara. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam keterangan resmi dari Iran.

Ghalibaf menyebut kabar mengenai adanya perundingan sebagai “berita palsu” yang sengaja disebarkan untuk mempengaruhi kondisi pasar global. Ia menegaskan bahwa isu tersebut tidak memiliki dasar yang jelas dan hanya bertujuan untuk kepentingan tertentu.

BACA JUGA: TEGANG! Iran Buka Terbatas Selat Hormuz, Nasib Dua Kapal Pertamina Jadi Sorotan Dunia

Menurut Ghalibaf, rumor tersebut dimanfaatkan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak, serta menciptakan narasi yang dapat menguntungkan pihak tertentu di tengah situasi konflik yang sedang berlangsung di kawasan.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform media sosial X pada Senin, sebagai bentuk respons cepat terhadap pernyataan dan laporan media internasional yang beredar terkait kemungkinan dialog antara Iran dan Amerika Serikat.

Ghalibaf juga menegaskan bahwa rakyat Iran menuntut adanya tindakan tegas terhadap pihak yang mereka anggap sebagai agresor. Ia menyatakan bahwa hukuman yang “penuh dan menimbulkan penyesalan” menjadi tuntutan utama masyarakat Iran.

Di sisi lain, situasi ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyampaikan bahwa dirinya telah memerintahkan penundaan serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari. Pernyataan tersebut disampaikan dari Amerika Serikat.

Trump mengklaim bahwa keputusan tersebut diambil karena adanya pembicaraan dengan pihak Teheran yang berlangsung “sangat baik dan produktif” dalam dua hari terakhir. Klaim ini menjadi salah satu pemicu munculnya spekulasi mengenai adanya negosiasi.

Namun, Iran secara tegas membantah pernyataan tersebut dan menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan resmi yang sedang berlangsung dengan pihak Amerika Serikat. Bantahan ini mempertegas perbedaan narasi antara kedua negara.