PANIK DI DUBAI! Drone Dekati Burj Khalifa, Harga Properti Anjlok Hingga Diskon 15 Persen

KALIMANTANLIVE.COM – Pasar properti di Dubai mulai goyah. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memicu kepanikan investor, bahkan berdampak langsung pada harga hunian di kawasan elite sekitar Burj Khalifa.

Laporan terbaru menyebutkan, penurunan mulai terasa hanya beberapa minggu setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas.

# Baca Juga :Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat Ketat, Kapal AS–Israel Tetap Diblokir! Harga Energi Terancam Bergejolak

# Baca Juga :Iran Ancam Serang Pasukan Israel di Gaza Jika Operasi Militer di Lebanon Terus Berlanjut

# Baca Juga :Iran Tegas Bantah Negosiasi dengan AS, Tuduh Trump Coba Redakan Gejolak Pasar

# Baca Juga :Malam Takbiran di Bati-Bati Tetap Kondusif, Polisi Amankan Perayaan hingga Pagi

Serangan drone yang dikaitkan dengan konflik tersebut disebut-sebut nyaris menyasar kawasan strategis di Teluk, termasuk wilayah Uni Emirat Arab. Situasi ini langsung mengguncang kepercayaan investor global.

Transaksi Anjlok Drastis

Data analis dari Goldman Sachs menunjukkan penurunan signifikan pada aktivitas pasar.

Dalam 12 hari pertama Maret, volume transaksi properti di UEA tercatat merosot hingga 37 persen secara tahunan. Secara bulanan, penurunannya bahkan mencapai 49 persen—sinyal kuat melemahnya minat beli di tengah ketidakpastian global.

Properti Mulai Banting Harga

Selama ini, Dubai dikenal sebagai “safe haven” bagi investor properti kelas atas. Namun, bayang-bayang konflik kini mengubah persepsi tersebut.

Sejumlah agen melaporkan bahwa banyak penjual mulai menawarkan diskon besar demi menarik pembeli. Potongan harga berkisar antara 12 hingga 15 persen dari nilai awal.

Salah satu kasus terjadi pada properti di sekitar Burj Khalifa. Sebuah unit dilaporkan dilepas dengan harga 650.000 dolar AS, turun dari sebelumnya 735.000 dolar AS—indikasi penjualan cepat akibat tekanan pasar.