JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Harga emas dunia kembali terpukul pada penutupan perdagangan Selasa (24/3/2026) waktu setempat atau Rabu (25/3/2026) pagi WIB. Tekanan datang dari meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi global di tengah memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Mengutip laporan Reuters, harga emas di pasar spot turun 0,4 persen ke level 4.389,26 dolar AS per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh titik terendah sejak November pada awal pekan.
# Baca Juga :UPDATE Teror Air Keras Aktivis KontraS! Prabowo Tegas: Pelaku Hingga Otak Intelektual Harus Dibongkar
# Baca Juga :PANIK DI DUBAI! Drone Dekati Burj Khalifa, Harga Properti Anjlok Hingga Diskon 15 Persen
# Baca Juga :Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat Ketat, Kapal AS–Israel Tetap Diblokir! Harga Energi Terancam Bergejolak
# Baca Juga :CUACA KALSEL–KALTENG 25 MARET 2026: Langit Mendung, Hujan Lokal Mengintai, Kotabaru Waspada Petir Siang!
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga melemah tipis 0,1 persen menjadi 4.402,00 dolar AS per ons.
Pelemahan ini dipicu kekhawatiran inflasi yang kembali meningkat akibat lonjakan harga energi, imbas konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut memperkuat prediksi bahwa suku bunga global akan bertahan tinggi dalam waktu lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik emas sebagai instrumen investasi.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menyebut situasi ini menjadi sentimen negatif bagi emas. Ia menilai, jika konflik terus berlanjut dan harga energi terus menanjak, tekanan terhadap emas akan semakin besar.
Meski demikian, ia memproyeksikan peluang pemulihan pada akhir tahun masih terbuka. Hal itu seiring potensi pelonggaran kebijakan bank sentral seperti The Fed, yang dapat mendorong pelemahan dolar AS serta penurunan suku bunga.
Sebagai aset lindung nilai atau safe haven, emas cenderung kehilangan daya tarik ketika suku bunga tinggi, karena tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga.
Di sisi lain, upaya diplomasi mulai terlihat. Perdana Menteri Pakistan menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran guna meredakan konflik. Pernyataan ini muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump menunda ancaman serangan terhadap fasilitas listrik Iran.
Konflik yang berlangsung turut mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global yang melintasi Selat Hormuz. Gangguan ini mendorong lonjakan harga energi sekaligus memperbesar tekanan inflasi dunia.
Sejumlah bank sentral global pun menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah jika tekanan harga semakin meluas.







