MOSKOW, Kalimantanlive.com – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mengkaji rencana pengerahan tambahan pasukan darat dalam konflik yang memanas dengan Iran. Wacana ini muncul sebagai bagian dari opsi militer yang sedang dipertimbangkan oleh Presiden Donald Trump.
Menurut laporan media The Wall Street Journal, Departemen Pertahanan AS sedang mengevaluasi kemungkinan pengiriman hingga 10.000 prajurit tambahan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini disebut bertujuan memperkuat kesiapan militer di tengah situasi yang terus berkembang.
BACA JUGA: AS Ajukan Proposal Damai 15 Poin ke Iran, Pakistan Jadi Perantara
Penambahan pasukan tersebut diharapkan dapat memberikan fleksibilitas strategi bagi pemerintah AS dalam menghadapi berbagai skenario, termasuk eskalasi konflik maupun peluang diplomasi.
Selain pasukan darat, rencana tersebut juga mencakup pengerahan sekitar 5.000 marinir serta ribuan prajurit penerjun payung. Mereka dilaporkan telah menerima perintah awal untuk bersiap ditempatkan di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai lokasi penempatan pasukan tambahan tersebut. Beberapa laporan menyebutkan bahwa wilayah sekitar Iran menjadi salah satu opsi utama.
Pulau Kharg, yang merupakan salah satu titik strategis Iran, juga disebut-sebut sebagai kemungkinan lokasi penempatan atau fokus operasi militer ke depan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, wacana ini muncul bersamaan dengan kemungkinan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun situasi di lapangan masih menunjukkan eskalasi.
Sebelumnya, pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan serta korban jiwa dari kalangan sipil.
Sebagai respons, Iran melakukan serangan balasan dengan menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer AS yang berada di Timur Tengah.
Awalnya, AS dan Israel menyebut serangan tersebut sebagai langkah pencegahan terhadap ancaman program nuklir Iran. Namun, dalam perkembangan selanjutnya, kedua negara juga mengisyaratkan keinginan untuk melihat perubahan kepemimpinan di Iran.
Sumber: Antaranews.com







