KALIMANTANLIVE.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang ekonomi global. Konflik yang melibatkan Iran diperkirakan akan mendorong lonjakan inflasi dalam jangka pendek, sekaligus membuat bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve, mengambil sikap hati-hati terkait kebijakan suku bunga.
Wakil Ketua Pengawasan The Fed, Philip Jefferson, mengungkapkan bahwa kenaikan inflasi dipicu oleh lonjakan harga energi akibat konflik yang sedang berlangsung.
# Baca Juga :AS Ajukan Proposal Damai 15 Poin ke Iran, Pakistan Jadi Perantara
# Baca Juga :Harga Minyak Dunia Tembus Level Psikologis 100 Dolar AS, Dampak Konflik AS-Iran Makin Parah
# Baca Juga :Iran Buka Selat Hormuz dengan Syarat Ketat, Kapal AS–Israel Tetap Diblokir! Harga Energi Terancam Bergejolak
# Baca Juga :Iran Ancam Serang Pasukan Israel di Gaza Jika Operasi Militer di Lebanon Terus Berlanjut
“Dalam jangka pendek, inflasi kemungkinan meningkat, terutama karena kenaikan harga energi yang dipicu konflik di Timur Tengah,” ujarnya dalam pidato di Dallas, Kamis (26/3/2026).
Lonjakan Energi Jadi Pemicu Utama
Menurut Jefferson, kebijakan moneter saat ini dinilai sudah berada di posisi yang tepat untuk menghadapi berbagai kemungkinan kondisi ekonomi ke depan.
Namun, ia menegaskan bahwa dampak ekonomi sangat bergantung pada durasi konflik. Jika lonjakan harga energi hanya berlangsung singkat, efeknya diperkirakan terbatas. Sebaliknya, jika harga minyak bertahan tinggi dalam waktu lama, dampaknya bisa meluas ke berbagai sektor.
Kenaikan harga bahan bakar mulai dirasakan konsumen, dan The Fed kini memantau apakah tekanan tersebut akan merembet ke harga barang dan jasa lainnya.
Jika kondisi ini berlanjut, rumah tangga berpotensi menghadapi tekanan berat, mulai dari meningkatnya biaya transportasi hingga berkurangnya belanja non-esensial seperti konsumsi restoran dan ritel.
Tekanan Ganda: Inflasi dan Tenaga Kerja
Situasi ini semakin kompleks karena The Fed juga harus menjaga keseimbangan antara pengendalian inflasi dan stabilitas pasar tenaga kerja.
Sebelum konflik memanas, inflasi di AS sudah berada di atas target 2 persen selama lima tahun terakhir. Dalam setahun terakhir, laju penurunannya bahkan cenderung melambat.







