ISTANBUL, Kalimantanlive.com – Ketegangan muncul antara Amerika Serikat dan Israel terkait rencana untuk mengakhiri perang dengan Iran, menurut laporan KAN pada Kamis (26/3). Perselisihan ini menyoroti perbedaan strategi kedua negara dalam menangani konflik yang telah menewaskan ribuan orang sejak akhir Februari.
KAN melaporkan bahwa perbedaan pandangan berpusat pada tiga isu utama: masa depan program rudal balistik Iran, transfer uranium yang telah diperkaya ke Badan Energi Atom Internasional, dan pelonggaran sanksi ekonomi terhadap Iran.
BACA JUGA: AS Pertimbangkan Tambahan 10.000 Pasukan Darat di Tengah Konflik dengan Iran
Pada Rabu, sejumlah laporan menyebutkan bahwa AS telah menyampaikan usulan 15 poin untuk menghentikan perang ke Iran melalui Pakistan. Selain itu, AS dikabarkan mempertimbangkan gencatan senjata sementara selama satu bulan untuk membuka jalan bagi perundingan lebih lanjut.
Mengutip seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Iran telah resmi menanggapi usulan AS melalui mediator.
Tanggapan ini mencakup tuntutan penghentian serangan dan pembunuhan di semua front, jaminan tidak akan terjadi perang lagi, kompensasi, dan pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz.
KAN, mengutip sumber politik di Israel, menyebutkan bahwa pembicaraan AS-Israel masih berlangsung dan ada kemungkinan usulan AS akan mengalami perubahan. Sumber tersebut menekankan kekhawatiran Israel terkait kemungkinan gencatan senjata sementara yang didorong AS.
Seorang pejabat Israel menambahkan bahwa Iran “sudah menggunakan bahasa perang tahap akhir,” sambil terus mengajukan tuntutan signifikan dalam kontak diplomatik yang sedang berlangsung. Ketegangan ini memunculkan ketidakpastian soal arah negosiasi.
Hingga saat ini, waktu pertemuan resmi antara pejabat AS dan Iran belum ditetapkan, meski Pakistan disebut berperan sebagai mediator dalam upaya diplomatik. Peran Pakistan menjadi kunci dalam menjembatani komunikasi kedua pihak yang berselisih.









