KALIMANTANLIVE.COM – Sebuah pesawat komando dan kendali canggih milik Amerika Serikat, Boeing E-3 Sentry, dilaporkan rusak parah akibat serangan rudal dan drone Iran pada 27 Maret 2026.
Serangan tersebut terjadi di Prince Sultan Air Base dan dilaporkan oleh sejumlah media internasional seperti Bloomberg serta The Wall Street Journal.
Dalam insiden itu, lebih dari 10 personel militer dilaporkan terluka, termasuk dua orang yang mengalami luka serius. Selain E-3 Sentry, tiga pesawat tanker KC-135 Stratotanker juga mengalami kerusakan signifikan.
# Baca Juga :LINK LIVE STREAMING Timnas Indonesia vs Bulgaria Final FIFA Series 2026, Duel Panas Penentu Juara Malam Ini!
# Baca Juga :Uji Tuntas Subaru Forester 2026: SUV Tangguh Segala Medan, Nyaman Maksimal di Kota!
# Baca Juga :Kebijakan Baru MBG! Hanya 5 Hari Sekolah, Tapi Bisa Hemat Rp40 Triliun per Tahun
# Baca Juga :Igor Tudor Hengkang Tanpa Pesangon Usai 43 Hari, Ini Profil Lengkapnya Eks Pelatih Spurs
Jika dikonfirmasi, ini akan menjadi pertama kalinya pesawat E-3 hancur dalam situasi pertempuran. Sejumlah foto yang beredar di media sosial menunjukkan kerusakan parah, termasuk bagian ekor yang terputus, meski keasliannya masih belum diverifikasi.
Pihak United States Central Command hingga kini belum memberikan komentar resmi terkait insiden tersebut.
Peran Vital ‘Otak Perang’
Pesawat AWACS seperti E-3 Sentry memiliki peran krusial dalam peperangan modern. Sejak digunakan oleh Angkatan Udara AS pada akhir 1970-an, pesawat ini menjadi pusat komando udara untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian.
E-3 telah digunakan dalam berbagai konflik besar, termasuk Perang Teluk 1991, perang Kosovo, hingga operasi di Irak, Afghanistan, dan kampanye melawan ISIS.
Dilengkapi radar berputar (rotodome) di bagian atas, E-3 mampu memantau pergerakan udara dalam radius luas dan mengoordinasikan operasi tempur secara real-time.
Namun, usia armada yang semakin tua menjadi tantangan. Saat ini, Angkatan Udara AS hanya memiliki sekitar 16 unit E-3, dengan tingkat kesiapan misi sekitar 56 persen.
Dampak Strategis Besar
Para analis menilai kehilangan satu unit E-3 Sentry merupakan pukulan signifikan bagi kemampuan militer AS.
Heather Penney menyebut pesawat ini sangat vital dalam mengatur lalu lintas udara tempur, penargetan, hingga koordinasi operasi militer.
Sementara itu, Kelly Grieco menilai kehilangan ini dapat menciptakan celah besar dalam kemampuan tempur jangka pendek.
Serangan ini juga menunjukkan strategi Iran yang dinilai semakin terarah. Dengan menargetkan radar, pesawat tanker, dan AWACS, Iran berupaya melemahkan kemampuan proyeksi kekuatan udara Amerika Serikat.
“Ini bukan serangan acak, melainkan kampanye terencana untuk memburu elemen penting kekuatan udara AS,” ujar Grieco.










