Yang kedua, jelas Anang Rosadi, jembatan yang terlalu lebar memang harus dikurangi agar bisa dilakukan pengerukan.
Tetapi banjir esensinya karena air, dan air turunnya ke bawah. Bagaimanapun melengkungnya jembatan air prinsipnya turun, sehingga yang diperlukan adalah pengerukan atau memperluas dan memperdalam sungai.
Pembongkaran jembatan harus benar-benar terencana maksud dan tujuannya. Tidak sekadar bongkar lalu bangun jembatan baru.
“Menangani Jalan A Yani harus merupakan konsep terpadu penataan kawasan parkir dan bisnis terpadu pertokoan. Misalnya ada toko berjarak 30 meter, cukup punya dua jembatan yang di dalamnya merupakan area parkir dan kawasan bisnis bersama,” jelas Anang Rosadi.
BACA JUGA :
Kompleks Banjar Indah Banjarmasin Banjir, Syarif: 20 Tahun Lalu Pernah Terendam, Tapi Tak Separah Ini
Soal adanya keluhan dan rencanan gugatan class action salah satu warga karena jembatannya dibongkar, sambung Anang Rosadi, itu merupakan ekses dari langkah yang seharusnya bisa lebih baik dilakukan. “Karena maksud dan tujuannya kita harus mengatasi banjir,” ujarnya.

Mengenai jembatan depan kantor Transmigran yang belum juga dibangun, Anang Adenansi mengatakan, dinding antara Kantor Transmigran dan masjid dirinya bongkar sehingga pegawai tertolong bisa lewat.
“Seharusnya sebelum membongkar pikirkan akses masuk pegawai di mana. Apalagi kantor-kantor pemerintahan tergantung anggaran. Itu bisa memakan waktu bisa sampai tiga bulan. Jika sungainya tidak dikeruk akan menimbulkan pertanyaan masyarakat,” ujarnya.
Soal siapa yang harus membangun jembatan yang dibongkar, kata Anang itu dibebankan kepada masing-masing pemilik.
“Tidak ada istilah akses pribadi dibangun pemerintah. Itu akhirnya akan merugikan orang. Kita boleh melakukan tindakan koreksi, tapi kita juga berpikir agar orang lain tidak dirugikan tapi semua sasaran tercapai,” ujarnya.
Anang mengaku dirinya memang sedikit berbeda pendapat dengan Tim Satgas Normalisasi Sungai.
“Saya ingin ketika Dansimal dibongkar setelah Pasar Pandu, yang merupakan sumber air yang menenggelamkan Gatot Subroto itu dikeruk dulu. Lalu kesalahan toko distributor yang dindingnya di atas sungai itu dibongkar duluan, terus simultan baru sampai ke Pal 6,” ujarnya.
Jadi, lanjut Anang Adenansi, tidak bisa membongkar-bongkar jembatan. “Saya kira kaji ulang dulu sementara, lalu bikin konsep yang lebih jelas A Yani, sehingga sasaran pembangunan dan keindahan kota tercapai,” katanya.
Penulis : Elpian Achmad
Editor : Elpianur Achmad







