Sehingga jika keretakan terjadi pada bagian depan kapal selam dan ABK sempat menutup pintu – pintu penyekat, maka kemungkinan air tidak masuk jauh ke bagian dalam masih bisa terjadi.
“Kalau retak mungkin di depan, ABK sempat menutup, jadi kemungkinan tidak kemasukan air di situ. Jadi ada kompartemen yang bisa ditutup dengan pintu kedap yang diputar,” ujar dia.
Sebelumnya Yudo menduga badan kapal selam KRI Nanggala-402 alami keretakan besar.
BACA JUGA: Black Box Sriwijaya Air SJ-182 Ditemukan Penyelam TNI AL, Dibawa ke Dermaga JICT
Bukti keretakan diperkuat dengan adanya sejumlah kepingan dan barang milik KRI Nanggala yang naik ke permukaan.
Setidaknya ada 5 jenis barang atau komponen yang ditemukan oleh tim SAR, dan diyakini kuat sebagai bukti otentik milik KRI Nanggala.
Temuan itu antara lain, kepingan pelurus tabung torpedo berwarna hitam, kepingan pembungkus pipa pendingin, satu botol grase pelumas periskop kapal selam, potongan kecil spon – spon penahan panas, serpihan alas salat para ABK dan minyak solar di dalam botol yang diambil dari permukaan laut.

“Sehingga barang – barang ini terbukti keluar yang mana ini sebenarnya ada di dalam. Apalagi backbone penahan pelurus torpedo shoot ini sampai bisa keluar, berarti terjadi keretakan yang besar,” tegas Yudo
Kapal Selam KRI Nanggala-402 hilang kontak pada posisi 95 KM dari utara Bali sejak Rabu (21/4/2021) pukul 04.30 waktu setempat.
Kapal yang tengah latihan itu membawa 53 awak. Kapal terakhir melakukan kontak ketika hendak menyelam untuk menembakkan torpedo saat latihan.
Saat ini TNI dibantu oleh kapal pencari dari Amerika Serikat, Singapura, Malaysia dan India masih melakukan proses pencarian.







