Hasan yang mantan pengurus Pemuda Anshor Kecamatan Banjarmasin selatang periode 1985 itu mengatakan bahwa kepemimpinan PWNU adalah kolektif sehingga semua pengurus harus diundang untuk bersepakat dalam membuat pernyataan sikap.
“Nasrullah itu kan cuma Plt Ketua PWNU Kalsel. Seyogyanya yang namanya Plt itu tidak membuat statement apalagi pernyataan sikap . Jangan lupa NU itu kolektif, sehingga sudah barang tentu semua kepengurusan harus diundang untuk membuat pernyataan sikap seperti itu,” tambahnya.
BACA JUGA:
Tangkal Aksi Maling Teriak Maling, Tim Paman Birin Bentuk Relawan Jaga Banua di Tiap TPS
Mantan Ketua Umum KNPI Kalsel juga meminta agar tidak ada lagi pernyataan-pernyataan dari Denny Indrayana dan timnya yang meresahkan masyarakat.
“Kita harap hentikan memprovokasi warga. Jangan warga diadu domba. Jangan buat statement-statement yang mengganggu masyarakat Banua. Kami muak dengan gaya berpolitik seperti itu,” pintanya.
Hasan pun mengingatkan agar kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin yang tersulut akibat provokasi dan adu domba tidak terulang.
“Saat itu ada pihak yang rekayasa, ada pihak yang provokasi sehingga terjadi kerusuhan. Jadi kalau saat ini ada yang mencoba merekayasa atau mengadu domba, kami masyarakat siap melawan mereka. Jangan ganggu singa guring (tidur),” kata Hasan.
Lima poin penyataan PWNU soal tadarusan Paman Birin dan Denny Indrayana :
Pertama, agar jangan memperlombankan Alquran dengan melibatkan calon gubernur atau mempolitisi Alquran dalam ranah politik.
Kedua, memperlombakan Alquran dengan adanya muatan politik justru menimbulkan perpecahan karena bisa memunculkan saling ejek setelah perlombaan di media sosial.







