Tinggal bagaimana penerapannya, diharapkan nanti evaluasi harus berkala, sejauh mana ketercapaian penerapan SOP yang tidak hanya harus dipatuhi oleh siswa, namun juga seluruh warga SMAN 1, tak terkecuali hingga dewan guru,” ucap politisi dari partai PKS.
Di sela dialog antara Komisi IV DPRD Provinsi Kalsel dan pihak dewan guru, tim humas DPRD Provinsi Kalsel mendapatkan fakta yang cukup miris ketika mewawancarai Fitrianor, siswa SMAN 1 Angsana yang juga berhadir di acara tersebut.
BACA JUGA:
Kunker Dalam Daerah Anggota DPRD Kalsel, Monev hingga Pantau Persiapan PTM
Fitrianor yang merupakan siswa kelas XI menceritakan, dirinya merasa sangat kesulitan ketika melaksanakan proses pembelajaran dalam jaringan (daring) atau sistem online, selama kurun waktu lebih dari satu tahun ini.
“Selain terkendala koneksi jaringan, saya juga harus bergantian dengan tiga adik saya memakai gawai pintar yang hanya ada satu buah di rumah,” tuturnya.
Fitrianor merupakan anak sulung di keluarganya. Dia juga seorang pengurus OSIS di SMAN 1 Angsana ini.
Fitrianor mengaku sangat menantikan PTM ini dimulai di sekolahnya.
Menurut dia, pembelajaran tatap muka lebih baik dari segi efektifitas.
“Karena selain pelajaran akademik, menurut hematnya, sosialisasi dan organisasi merupakan pembelajaran tidak langsung yang didapatnya di sekolah yang menurutnya cukup berguna ketika dirinya sudah lulus nanti,” katanya. (humasdprdkalsel/Rom)
Editor : Elpian Achmad







