Melihat hal itu, rekan-rekan satpam di lokasi langsung berdatangan menolong korban.
Akibat sambaran petir, Abdul harus dirawat di rumah sakit. Meski sambaran petir begitu mengerikan, korban dipastikan selamat dan kini kondisinya membaik.
“Dia sempat dirawat di rumah sakit Koja selama empat hari, saat ini kondisi sudah membaik. Luka bakar di bagian tangan sebelah kiri,” jelas Alex.
Alex menyebut bahwa dirawat selama 4 hari di RS Pelabuhan, Koja, Jakarta Utara. Kini, Slamet sudah diperbolehkan pulang ke rumah.
“Saat ini korban sudah berada di rumahnya dan kondisi sudah membaik,” ucap Alex.
Penjelasan ahli Terkait video tersebut, peneliti petir sekaligus Guru Besar dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Dipl Ing Ir Reynaldo Zoro menjelaskan penyebab sambaran petir tersebut.

Menurut Zoro, ponsel atau HT tidak menyebabkan seseorang tersambar petir. Sebab, keduanya memiliki frekuensi yang berbeda.
“Mungkin itu mitos ya seolah frekuensi ponsel dan HT dengan petir itu nyambung, enggak ya. (Frekuensi) ponsel dan HT itu GHz (gigahertz) sedangkan petir maksimalnya hanya 100 MHz (megahertz), jadi tidak nyambung,” kata Reynaldo saat dihubungi Kompas.com, Minggu (26/12/2021).
Ia menjelaskan, petir hanya menyambar titik yang masuk dalam jarak sambarnya. Apabila petir kecil, maka jarak sambarnya pun kecil.
Dalam kasus yang terjadi pada satpam tersebut, payung yang digunakan satpam dinilai menjadi salah satu penyebab sambaran.
“Pemakaian payung menyebakan sasaran bertambah tinggi sehingga memungkinkan lebih mudah tersambar petir, karena lebih dekat ke lidah petir,” ujarnya.










