JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Pemerintah Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengeluarkan delapan proyek dari daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) di tahun 2022 ini.
Pemerintah pun tengah menyusun perubahan daftar PSN ini dan akan dituangkan di dalam Peraturan Menko Perekonomian No.9 Tahun 2022 yang akan segera diterbitkan dalam waktu dekat.
Ketentuan pencoretan delapan proyek infrastruktur tersebut akan diatur dalam Peraturan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Permenko) tersebut.
# Baca Juga :12 Jam Diperiksa Polisi, Roy Suryo Pulang Lemas dan Berkursi Roda, Buntut Meme Stupa Mirip Jokowi
# Baca Juga :Peringatan Kedua Jokowi soal Dugaan Pembunuhan Berencana Brigadir J, Ini Alasan Polri
# Baca Juga :PT Antang Diduga Serobot Tanah Masyarakat HSS, Warga Gruduk Tambang dan Mengadu ke Presiden Jokowi
“Itu sudah diberi warning perpanjangan tapi tidak ada progres, sehingga dikeluarkan,” kata Deputi Bidang Koordinasi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo dalam konferensi pers Selasa (26/7/2022) lalu.
Seperti dikutip di CNN Indonesia.com, Wahyu merinci lima dari delapan proyek yang dihapus, yakni Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api-Api Sumatera Selatan, Bendungan Tiro di Aceh.
Kemudian, proyek Inland Waterways/Cikarang Bekasi Laut (CBL), proyek Bandara Bali Utara dan proyek kereta api Puruk Cahu-Batanjung melalui Bangkuang di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Salah satu faktor yang membuat delapan proyek tersebut dikeluarkan dari daftar PSN adalah kesulitan mencari investor.
“Kami keluarkan karena dukungan masyarakat enggak kuat, juga kajiannya lambat atau misalnya harus mencari mitra yang enggak gampang,” ujar Wahyu.
Lantas, berapa sih nilai investasi dari proyek tersebut dan rinciannya seperti apa?
KEK Tanjung Api-Api
Melansir situs Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Kamis (28/7), KEK Tanjung Api-Api diusulkan oleh gubernur Sumatera Selatan dan telah ditetapkan melalui PP Nomor 51 Tahun 2014 pada 30 Juni 2014. pengembangan KEK Tanjung Api-Api difokuskan untuk kegiatan utama industri karet, kelapa sawit, dan petrokimia.
Proyek ini memiliki rencana mulai konstruksi pada 2016. Proyek ini semula direncanakan bisa beroperasi pada 2019.
Pemerintah memperkirakan biaya investasi pada proyek tersebut sebesar Rp12,3 triliun. Adapun sumber pendanaan bersumber dari APBN dan APBD.










