FLASH Warning Film Pengabdi Setan 2, Waspada Bagi Pengidap Epilepsi Fotosensitif

Penyebab epilepsi fotosensitif

Penyebab pasti epilepsi fotosensitif masih banyak belum dipahami. Meski demikian, trigger atau pemicunya cukup mudah diidentifikasi.

Menurut para ahli, faktor genetika diduga memainkan peran penting dalam perkembangan penyakit ini.

Sementara pada orang dengan variasi unik gen CHD2 memiliki tingkat risiko tinggi penyakit tersebut daripada populasi lainnya.

Studi menunjukkan bahwa gelombang gamma yang berosilasi 30-80 kali di korteks visual dapat memicu kejang pada dengan epilepsi yang diinduksi cahaya.

Penelitian lain juga menunjukkan, epilepsi photosensitive disebabkan adanya perubahan antara hubungan di berbagai bagian otak pada pasien epilepsi fotosensitif.

Pemicu epilepsi fotosensitif

Menonton televisi, film di bioskop hingga bermain video game adalah pemicu yang paling umum terjadi.

Pada intinya, kekambuhan pasien epilepsi fotosensitif dipicu karena adanya lampu yang berkedip 15 hingga 25 kali per detik, tetapi frekuensinya bervariasi pada masing-masing pasien.

Misalnya ada orang yang kejang setelah melihat kedipan lampu berwarna merah, dibandingkan lampu biru.

Lalu ada yang butuh waktu lebih lama atau paparan berkali-kali sampai munculnya kekambuhan.

Epilepsy Foundation juga melaprorkan, beberapa penyebab umum kekambuhan pasien meliputi video game yang menampilkan kilatan cahaya cepat.

Kemudian lampu strobo, pantulan sinar matahari yang tampak dari air atau tirai mengilap, pola visual yang kontras, sampai lampu berkedip pada kendaraan darurat.

Selain kejang, beberapa gejala seperti pusing, perubahan pada penglihatan, sakit kepala, mual, berkurangnya tingkat kesadaran sampai terjatuh juga dapat menyertai kondisi kekambuhan ini.

Dokter biasanya akan mendiagnosis seseorang yang memiliki risiko epilepsi fotosensitif ketika pasien sudah merasakan dua kali kejang setelah melihat faktor risikonya.

Pemeriksaan pun dilakukan secara neurologis untuk meninjau refleks, kekuatan otot dan postur melalui elektroensefalogram (EGG), sejenis mesin yang mampu mengukur dan merekam aktivitas listrik di otak yang menjadi tanda epilepsi.

Editor : NMD/Kalimantanlive.com

 

News Feed