JAKARTA, KALIMANTANLIVE.COM – Sutradara, Joko Anwar memasang peringatan flash warning di bioskop yang memutar film Pengabdi Setan 2: Communion.
Pemasangan ini dilakukan per hari ini, Selasa, 9 Agustus 2022 sebagai respons atas munculnya petisi yang meminta pembuat film horor dan bioskop itu memasang peringatan flash warning itu.
“Terima kasih sudah mengingatkan kami, teman-teman. Mulai hari ini peringatan flash warning mulai dipasang di bioskop-bioskop di seluruh Indonesia,” cuit Joko Anwar di akun Twitternya, setengah jam lalu.
# Baca Juga :Sisi Gelap Kehidupan Raja Film Laga Hongkong Jackie Chan Diungkap dalam Memoar Never Grow Up
# Baca Juga :Film-film Ini Akan Mengisi Layar Indonesia, Cocok untuk Hiburan Sekeluarga
# Baca Juga :Bullet Train, Film Laga Terbaru Brad Pitt Menghadapi Pembunuh Bayaran
# Baca Juga :Bintang Film Godfather, James Caan, Tutup Usia, Penyebab Kematiannya Belum Diketahui
Jokan, panggilan sutradara terkenal itu, mengunggah foto peringatan yang akan dipasang di bioskop agar dibaca orang yang mau menonton film Pengabdi Setan 2. “MOHON PERHATIAN. Film ini menggunakan efek lampu flash dan strobo yang bisa menimbulkan kekambuhan pada penderita epilepsi photosensitive. Pengabdi Setan 2: Communion,” demikian bunyi yang tertulis di kertas peringatan itu.
Pemasangan flash warning ini bukan karena ketegangan atau cerita yang mencekam, tetapi kilatan cahaya dan lampu strobo yang tampil di film tersebut bisa berbahaya dan memicu kekambuhan bagi pengidap epilepsi fotosensitif.
Menyadari kritik dari penonton, Joko Anwar pun menyikapinya dengan positif.
Film Pengabdi Setan 2 akhirnya memiliki flash warning yang mulai dipasang sebelum filmnya diputar.
Terima kasih sudah mengingatkan kami, teman-teman. Mulai hari ini peringatan flash warning mulai dipasang di bioskop-bioskop seluruh Indonesia. pic.twitter.com/7lMVzs87LH
— Joko Anwar (@jokoanwar) August 9, 2022
Apa itu epilepsi fotosensitif
Seperti dikutip laman EpilepsySociety.org, epilepsi fotosensitif adalah sejenis epilepsi atau kejang yang dipicu oleh paparan lampu yang berkedip, pola terang dan gelap yang kontras.
Efek cahaya berkedip yang kontras itu sebetulnya dapat membuat orang dengan atau tanpa epilepsi dapat merasakan disorientasi, rasa ketidaknyamanan hingga merasa tidak baik.
Tetapi bagi orang dengan epilepsi fotosensitif, dia bisa mengalami gangguan listrik mendadak di otak yang menyebabkan perubahan perilaku dan gerakan alias kejang.
Gejalanya pun dapat bervariasi dalam tingkat keparahan sebagian tubuh, hingga keseluruhan turut berpengaruh.
Pada umumnya, kasus epilepsi fotosensitif terjadi pada anak-anak dan gejalanya cenderung berkurang seiring bertambahnya usia.
Menurut laporan Epilepsy Foundation yang berbasis di Amerika Serikat, hampir semua orang dengan epilepsi photosensitive mengalami kejang pertama mereka sebelum usianya mencapai 20 tahun.
Sekitar 59-75 persen kasusnya pun dialami oleh perempuan. Sedangkan frekuensi kekambuhan lebih banyak dialami oleh pria.
Satu teori yang mendukung persentase tersebut dikarenakan anak laki-laki diduga lebih sering video game.
Dengan video game seseorang akan lebih mudah dan sering terpapar oleh cahaya berkedip dan kontras.








